February 20, 2021

(Bahasa Indonesia) Memperingati Hari Trenggiling Sedunia, 10 Fakta tentang Trenggiling

(Bahasa Indonesia) Apa kamu pernah mendengar atau melihat satwa ini? Tahukah kamu bahwa satwa ini adalah satwa yang paling banyak diperdagangkan secara gelap? Memperingati Hari Trenggiling Sedunia, mari berkenalan lebih jauh dengan satwa pemalu satu ini!

1. Makna Kata Trenggiling adalah Penggulung

(Bahasa Indonesia) Pangolin berasal dari kata "Penggulung"

(Bahasa Indonesia) Trenggiling atau pangolin adalah sebutan untuk seluruh satwa yang berada dalam ordo Pholidota. Nama trenggiling yang kita kenal dalam Bahasa Indonesia berasal dari Bahasa Melayu yang berarti sesuatu yang berguling-guling. Makna tersebut berkaitan erat dengan salah satu sistem pertahanan satwa nokturnal ini yang membuatnya dapat menggulung badan bak bola.

2. Delapan Spesies Trenggiling Tersebar di Afrika dan Asia

(Bahasa Indonesia) Ada delapan spesies trenggiling di dunia. empat spesies dari afrika, empat spesies lainnya dari asia

(Bahasa Indonesia) Trenggiling tidak terlalu dikenal luas selain di benua Asia dan Afrika. Pasalnya, dari delapan spesies trenggiling, empat spesies hanya terdapat di benua Asia dan empat lainnya di benua Afrika. Ada pun rincian dari delapan spesies trenggiling adalah sebagai berikut:
• Trenggiling Tiongkok (Manis pentadactyla)
• Trenggiling India (Manis crassicaudata)
• Trenggiling Filipina (Manis culionensis)
• Trenggiling Sunda (Manis javanica)
• Trenggiling-Pohon Perut-Hitam (Phataginus tetradactyla)
• Trenggiling-Tanah Raksasa (Smutsia gigantean)
• Trenggiling Tanah (Smutsia temminckii)
• Trenggiling-Pohon Perut-Putih (Phataginus tricuspis)

Jawa, Kalimantan dan Sumatra merupakan penyebaran alami bagi Trenggiling Sunda. Masyarakat Jawa Barat mengenal mereka dengan sebutan Peusing. Tentu saja, masing-masing spesies tersebut memiliki ciri khusus. Panjang rata-rata tubuh trenggiling berkisar antara 30 hingga 50 cm. Spesies terbesar, Trenggiling-Tanah Raksasa, dapat tubuh hingga 75-80 cm dengan berat maksimum mencapai 33 kilogram.

Masing-masing spesies juga memiliki habitat yang berbeda. Beberapa merupakan pemanjat andal yang dapat memanfaatkan ekornya untuk mencengkeram batang pohon. Trenggiling yang bersifat arboreal akan membuat sarangnya di atas pohon.
Sebagian lainnya lebih banyak tinggal di tanah dan membuat sarang dengan menggali hingga kedalaman tiga meter.

3. Satu-satunya Mamalia Bersisik di Dunia

(Bahasa Indonesia) SISIK TRENGGILING TERDIRI DARI KERATIN, SEPERTI KUKU MANUSIA

(Bahasa Indonesia) Trenggiling merupakan satu-satunya mamalia bersisik. Sisik yang terdapat di seluruh tubuhnya ini terbuat dari keratin, zat yang terkandung dalam kuku dan rambut manusia. Keratin juga merupakan protein yang terkandung dalam cula badak dan cakar beruang.

Sisik-sisik ini keras, besar, tersebar tumpang tindih, dan menyumbang 20 persen bobot tubuh trenggiling.

4. Membawa Anak di Ekor

(Bahasa Indonesia) BAYI TRENGGILING MENAIKI EKOR INDUKNYA SETIAP KALI BEPERGIAN

(Bahasa Indonesia) Meski tubuhnya dipenuhi sisik, trenggiling dapat “membawa” anaknya di atas pangkal ekornya. Anak tersebut dibawa ketika trenggiling betina mencari makan. Ketika baru lahir, bayi trenggiling memiliki sisik yang lebih lunak dan pucat. Sisiknya akan semakin mengeras mulai dari trenggiling berumur dua hari hingga berusia dewasa.

Induk trenggiling akan merawat bayinya di sarang selama tiga atau empat bulan sebelum anaknya dilepas mencari makan sendiri. Si induk akan terus melingkarkan tubuh mengelilingi bayinya ketika mereka tidur atau ketika terancam.

5. Bergulung Seperti Armadillo, Berbau Bak Sigung

Ketika terancam trenggiling akan melindungi kepalanya dengan kaki depan, membuat tubuhnya berbentuk seperti bola, persis yang dilakukan armadillo. Posisi ini akan melindungi trenggiling dari predator.

Mekanisme pertahanan lainnya adalah kemampuan mengeluarkan cairan kimia berbau dari kelenjar di bawah ekornya, layaknya sigung.

6. Lidah yang Sangat Panjang

Trenggiling mempunyai lidah yang sangat panjang. Bahkan, panjang lidahnya bisa mencapai sepertiga panjang tubuhnya. Trenggiling menggunakan lidahnya untuk mengambil makanan, air liurnya yang lengket membuat trenggiling mampu menyendok semut dalam jumlah besar.

Ketika tidak digunakan, lidahnya akan ‘tersimpan’ dalam rongga di bagian dada, menempel pada dinding perut. Hal ini memungkinkan karena akar lidahnya tidak melekat pada tulang namun berada pada rongga di dada.

Untuk menggapai makanannya, trenggiling dapat menjulurkan lidahnya hingga 40 cm dengan diameter hanya 0.5 cm.

7. Mampu Memakan 70 Juta Semut

(Bahasa Indonesia) TRENGGILING BISA MENGONSUMSI 70 JUTA SEMUT DALAM SETAHUN

(Bahasa Indonesia) Julukan lain trenggiling adalah scaly anteaters. Julukan ini muncul karena kemampuannya melahap semut dan rayap dalam jumlah besar. Sebagai spesies pemakan serangga, makanan utama trenggiling adalah semut.

Trenggiling mampu mendeteksi sarang semut atau gundukan rayap dengan indra penciumannya yang tajam, meski indra penglihatannya buruk.

Umumnya, trenggiling mengonsumsi hingga 200.000 semut dan rayap dalam sehari. Artinya, ia mampu memakan lebih dari 70 juta serangga dalam setahun.

Ketika sedang makan, trenggiling akan menyepitkan lubang hidung dan telinganya agar tak dimasuki serangga. Kelopak matanya yang tebal juga melindungi trenggiling dari gigitan semut.

8. Mamalia Terbanyak Diperdagangkan Secara Ilegal

(Bahasa Indonesia) TRENGGILING, MAMALIA YANG PALING BANYAK DIPERDAGANGKAN SECARA GELAP DI DUNIA

(Bahasa Indonesia) Sayangnya, meski merupakan hewan pemalu dan penyendiri, trenggiling adalah mamalia yang paling banyak diperdagangkan secara illegal di seluruh dunia. Diperkirakan puluhan ribu trenggiling diselundupkan setiap tahunnya. Bahkan organisasi konservasi dunia IUCN memperkirakan satu ekor trenggiling diambil dari alam liar setiap lima menit.

Aspek utama yang membuatnya gencar diburu adalah kepercayaan bahwa sisiknya merupakan bahan resep pengobatan tradisional. Sementara itu, dagingnya dimasak sebagai hidangan yang dinikmati kaum elit di negara-negara tertentu.

Di Indonesia, perdagangan trenggiling adalah tindakan ilegal yang hukumnya diatur dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 serta dalam Peraturan Menteri LHK Nomor 106 Tahun 2018.

9. Status Konservasi Trenggiling Terancam

Kedelapan spesies trenggiling masuk dalam kategori IUCN Red List of Threatened Spesies yang membutuhkan perhatian konservasi. Berdasarkan penilaian pada tahun 2019, tiga trenggiling Asia yakni Trenggiling Cina, Trenggiling Sunda, dan Trenggiling Filipina masuk dalam kategori Kritis atau Critically Endangered (CR) sementara Trenggiling India berstatus Terancam atau Endangered (EN).

Di sisi lain, dua dari spesies trenggiling Afrika yakni Trenggiling-Pohon Perut Putih dan Trenggiling-Tanah Raksasa berstatus Terancam (EN), sementara dua spesies trenggiling Afrika lainnya masuk ke dalam kategori Rentan atau Vulnerable (VU). Status konservasi Trenggiling yang mengkhawatirkan ini tak terlepas dari tingginya aktivitas perdagangan illegal yang mengancam keberadaan mereka di alam liar

10. Memiliki Hari Perayaan Dunia

UN Environment Program (UNEP) memperingati keberadaan trenggiling melalui Hari Trenggiling Sedunia atau World Pangolin Day yang jatuh pada hari Sabtu ketiga setiap bulan Februari. Di tahun 2021, Hari Trenggiling Sedunia jatuh pada tanggal 20 Februari.

Peringatan tahunan ini merupakan salah satu bentuk upaya konservasi trenggiling. Tujuan utamanya adalah memperkenalkan masyarakat global kepada trenggiling dan meningkatkan kesadaran kolektif mengenai ancaman bagi eksistensi spesies ini.

Subscribe to our restoration news