Februari 05, 2021

Burung Trinil Kaki Hijau Muncul dalam AWC 2021

Terakhir terlihat 16 tahun silam, burung Trinil Kaki Hijau (Tringa nebularia) kembali terdeteksi oleh tim pemantauan Restorasi Ekosistem Riau (RER) dalam Sensus Burung Air Asia (Asian Waterbird Census/AWC) 2021.

AWC adalah kegiatan tahunan global yang merupakan bagian dari Wetlands International-Indonesia, sebagai koordinator nasional.

Biasa dilaksanakan pada minggu ke-2 dan ke-3 bulan Januari setiap tahunnya, AWC merupakan salah satu instrument dalam upaya konservasi burung air dan lahan basah sebagai habitatnya.

RER telah berpartisipasi dalam survei tahunan ini sejak tahun 2017.

Tahun ini, tim RER yang berjumlah lima orang mengamati dan mencatat keberadaan burung air di sekitar Sungai Kampar dari tanggal 19 hingga 21 Januari.

Burung Trinil Kaki Hijau Bermigrasi dari Eurasia

Trinil Kaki Hijau (Common greenshank) kembali teramati dalam Sensus Burung Air 2021.

Trinil Kaki Hijau (Common greenshank) kembali teramati dalam Sensus Burung Air 2021.

Tahun ini, tim RER menemukan keberadaan Burung Trinil Hijau (Common greenshank) di habitat sekitar Sungai Kampar.

Penemuan ini menjadi tak biasa, mengingat burung ini terakhir dijumpai di lokasi lahan basah tersebut pada tahun 2004.

Ciri khas dari burung yang berkembang biak di wilayah Eurasia Utara ini adalah ekornya yang bergaris-garis.

Dengan kaki berwarna hijau, jenis burung ini dapat bergerak cepat ketika mencari makan di lahan basah.

Adapun makanan burung trinil meliputi hewan-hewan tak bertulang belakang seperti udang-udangan, serangga, ikan-ikan kecil, ulat, atau moluska.

Spesies burung trinil kaki hijau memiliki ukuran tubuh sekitar 32 cm. Bagian punggung dan sayapnya berwarna abu-abu, sementara bagian dada, perut dan tunggingnya berwarna putih.

Jenis burung air ini akan bermigrasi ke Indonesia dan wilayah Asia Tenggara setiap musim dingin mulai menyelimuti wilayah Eurasia bagian utara, saat inilah kesempatan terbesar untuk menjumpainya.

Meski status konservasi IUCN burung ini termasuk ‘least concern’ atau spesies dengan risiko rendah, kegiatan perburuan di beberapa negara yang mereka singgahi tetap harus menjadi hal yang diwaspadai.

Perjumpaan Tim RER di lapangan dengan burung Trinil Kaki Hijau menjadi hal menarik layaknya nostalgia setelah 16 tahun lamanya.

Pengamatan Terhadap Spesies Burung Air Dilindungi

Pada AWC tahun 2019, terdapat 128 ekor burung air yang teramati oleh tim RER di sekitar Sungai Kampar.

Di tahun 2020, kegiatan tahunan yang rutin diikuti oleh tim RER ini mencatat keberadaan 444 ekor dari 11 spesies burung air.

Tahun ini, jumlah yang berhasil teramati adalah 163 ekor dari 10 spesies burung air.
Pada hari pertama observasi, spesies burung air yang paling banyak dijumpai adalah Cangak Merah (Ardea purpurea) dengan jumlah 112 ekor.

Spesies burung air besar yang ukuran tubuhnya berkisar antara 78 hingga 97 cm ini memang dikenal berhabitat di beberapa wilayah di Indonesia.

Tim RER juga menemukan jenis burung trinil lain, yakni Trinil Pantai (Actitis hypoleucos) yang dijumpai dalam dua hari pemantauan.

Temuan menarik lainnya adalah Bangau Tongtong (Leptoptilos javanicus) yang tergolong dalam status konservasi IUCN ‘vulnerable’ atau rentan.

Trinil Kaki Hijau (Common greenshank) kembali teramati dalam Sensus Burung Air 2021.

Bangau Tongtong, spesies burung yang dilindungi di Indonesia dan masuk dalam kategori “rentan (VU) oleh IUCN

Bangau Tongtong memiliki tinggi sekitar 110 hingga 120 cm dengan rentang sayap mencapai 210 cm dan berat hingga 5 kg.

Ciri khas Bangau Tongtong adalah paruhnya yang panjang, tebal, berbentuk agak melengkung dengan warna pucat.

Selain itu, leher dan kepalanya terlihat tanpa bulu, hanya terdapat bulu halus seperti kapas putih pada bagian mahkota.

Penampakannya cenderung mengingatkan pada orang tua, namun dengan tubuh kekar dan berotot.

Bulu pada bagian sayap dan punggungnya didominasi warna hitam, sementara bagian perut, ekor, dan kalung lehernya berwarna putih.

Keunikan lainnya dari jenis burung air ini adalah cara berjalannya yang tegap serta kebiasaannya berlari sebelum terbang, layaknya pesawat yang hendak lepas landas.
Perjumpaan tim RER dengan Bangau Tongtong dalam AWC 2021 pun menjadi momen menarik yang meningkatkan antusiasme.

Konservasi Burung Air dan Habitat di Semenanjung Kampar

Berpartisipasi selama lima tahun berturut-turut, RER menaruh perhatian besar terhadap populasi burung air di wilayah Semenanjung Kampar.

AWC juga merupakan salah satu perangkat bagi upaya penentuan populasi burung air global yang berujung pada strategi konservasi burung air dan habitatnya.

Komitmen RER dalam upaya ini didorong pemahaman mendasar bahwa populasi burung air yang sehat mengindikasikan kondisi habitat yang sehat pula.

Menurut anggota tim pemantauan AWC di RER, Prayitno Goenarto, partisipasi RER juga menunjukkan pentingnya Semenanjung Kampar bagi populasi burung air global.

Untuk itu, RER berencana untuk terus berpartisipasi dalam kegiatan AWC selanjutnya.

Sampai jumpa tahun depan!

Berlangganan Berita Restorasi Kami