Keanekaragaman Hayati

Penyusunan strategi pengelolaan Semenanjung Kampar secara berkelanjutan dan dalam jangka panjang memerlukan adanya pengukuran yang terperinci serta pemahaman atas keanekaragaman hayati yang ada di lokasi tersebut.

Survei Keanekaragaman Hayati

Fauna & Flora International (FFI) bermitra dengan RER untuk mengembangkan kerangka pengelolaan sekaligus memberi masukan bagi kebijakan dan praktik bagi kajian keanekaragaman hayati, isu iklim, dan hubungan dengan masyarakat. Pada tahun 2015, tim lapangan FFI memulai survei besar untuk menyusun inventori spesies yang mencakup spesies tanaman kayu dan bukan-kayu, serta spesies mamalia, burung, reptil, dan amfibi.

Inventori tersebut meliputi keempat ijin IUPHHK-RE di Semenanjung Kampar yang diberikan pada APRIL oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, yaitu: PT Gemilang Cipta Nusantara, PT Sinar Mutiara Nusantara, PT The Best One UniTimber. Sementara inventori untuk PT Global Alam Nusantara dilakukan pada 2020 silam.

Penyusunan inventori awal tersebut mencakup area seluas 92.507 ha, atau kurang-lebih 70 persen dari kawasan RER di Semenanjung Kampar.

Biodiversity Survey and Monitoring

Kamera jebak menjadi perangkat penting dalam menemukan keberadaan spesies di area konsesi di Semenanjung Kampar dan Pulau Padang.

Survei Kamera Jebak

RER employs camera trap surveys to continue to assess the remarkable range of species present in the RER, building on the initial biodiversity surveys carried out by FFI.

RER menerapkan survei kamera jebak untuk terus mengkaji keragaman spesies yang ada di RER, dengan mengembangkan hasil dari survei keanekaragaman hayati awal yang dilakukan oleh FFI.

Kamera jebak merupakan perangkat penting dalam menemukan keberadaan spesies di area konsesi di Semenanjung Kampar dan Pulau Padang. Sebagai contoh, pada tahun 2017, RER memasang 84 kamera jebak yang beroperasi selama 7.758 malam, menangkap 6.310 gambar (snapshot) dan video yang memungkinkan dilakukannya identifikasi terhadap 52 spesies hewan.

Salah satu keuntungan menggunakan kamera jebak ialah kemampuan perangkat ini untuk mengidentifikasi spesies yang sulit dideteksi, seperti misalnya burung Paok Sayap Biru (Pitta moluccensis), yang keberadaannya di kawasan RER berhasil dipastikan untuk pertama kalinya dalam bentuk foto dan video dari kamera jebak belum lama ini.

Bukti dari kamera menunjukkan bahwa RER memiliki potensi untuk mendukung perkembangbiakan populasi burung Puyuh Hitam (Melanoperdix niger) berdasarkan hasil tangkapan kamera jebak yang mengidentifikasi keberadaan sepasang pasangan jantan dan betina. Temuan ini menambah keragaman di kawasan RER yang pada dasarnya memang amat kaya, membuat jumlah avifauna yang tercatat di Semenanjung Kampar bertambah menjadi lebih dari 300 spesies.

Meskipun kegiatan penyusunan inventori masih terus berlangsung, per Januari 2024, sudah tercatat sebanyak 893 spesies fauna dan flora yang berhasil diidentifikasi, termasuk 78 mamalia, 106 Amfibi dan Reptil, 319 spesies burung, 201 tumbuhan 89 spesies ikan, dan 100 odonata. 75 di antaranya merupakan spesies yang terancam di tingkat global, termasuk Harimau Sumatra dan Trenggiling Sunda yang dinyatakan berstatus Kritis (critically endangered).

In addition to the 200 water birds, 64 non-water bird species were also observed.

Salah satu keuntungan menggunakan kamera jebak ialah kemampuan perangkat ini untuk mengidentifikasi spesies yang sulit dideteksi, seperti misalnya burung paok sayap biru.

 

 

RER 2023 Progress Report