Februari 20, 2019

RER spots 128 birds during 2019 Asian Waterbird Census

Restorasi Ekosistem Riau (RER) memberikan tambahan pengetahuan dalam hal populasi burung di kawasan hutan Semenanjung Kampar di Pelalawan, Riau, Indonesia, dengan senantiasa ikut serta dalam kegiatan tahunan Sensus Burung Air Asia (AWC/Asian Waterbird Census).

AWC merupakan kegiatan global yang mencatat berbagai spesies burung air di lokasi peserta kegiatan masing-masing untuk membantu memperkirakan populasi spesies serta mengkaji potensi ancaman terhadap lokasi tersebut.

Di Indonesia, AWC dikoordinasikan oleh Wetlands International – Indonesia, yang menyediakan format standar yang mencantumkan semua nama spesies burung air yang ditemukan di Indonesia, dalam nama bahasa Indonesia dan nama ilmiahnya.

Peserta AWC melakukan kegiatannya di luar ruangan dengan membawa teropong dan kamera untuk mencatat spesies dan jumlah burung air yang dijumpai.

Peserta biasanya melakukan observasi AWC pada minggu kedua dan ketiga bulan Januari, namun pengamatan kapan pun selama bulan Januari masih bisa diterima.

RER telah menjadi peserta AWC sejak tahun 2017. Tahun ini, lima anggota dari RER ambil bagian dalam kegiatan ini, mengamati dan mencatat burung air yang ada di sepanjang sungai Kampar pada 29-30 Januari.

Bird watching-AWC-Rekoforest

Beberapa Peserta Melakukan Kegiatan Dengan Berjalan Kaki

Dalam waktu dua hari, tim berhasil mendeteksi 128 burung yang terdiri atas 14 spesies.

Spesies yang paling signifikan yang tercatat ialah burung Bangau Tongtong (Leptoptilos javanicus), spesies yang dilindungi pemerintah Indonesia dan oleh IUCN digolongkan sebagai satwa Rentan (Vulnerable).

Asian Waterbird Census 2019

Burung Bangau Tongtong, Spesies Yang Dilindungi Pemerintah Indonesia Dan Oleh Iucn Digolongkan Sebagai Satwa Rentan (Vulnerable)

Tim RER mencatat lima ekor bangau di tengah kerimbunan vegetasi di sepanjang pinggiran sungai Kampar, yang segera terbang ketika tim RER melintas dengan kapal cepat.

Spesies pertama yang dijumpai selama AWC – burung Cangak Merah (Ardea purpurea) – merupakan spesies yang paling umum dijumpai, tercatat sebanyak 44 ekor. Tim RER juga melihat 35 ekor burung Kowak-malam Abu (Nycticorax nycticorax) dalam suatu kawanan, yang sedang kembali ke tempat istirahat mereka untuk menghabiskan malam.

The Purple Heron

Burung Cangak Merah Adalah Sejenis Bangau Bertubuh Sangat Panjang Dan Sangat Langsing, Dengan Kepala Yang Panjang Dan Pipih Serta Leher Dan Paruh Yang Panjang

Tim RER juga berhasil melihat dua spesies burung baru di Semenanjung Kampar selama survei AWC – burung Cerek Tilil (Charadrius alexandrinus) dan burung Cerek Pasir Besar (Charadrius leschenaultia).

Prayitno Goenarto, Staf Konservasi RER yang memimpin tim AWC tahun ini mengatakan bahwa penting bagi RER untuk ambil bagian dalam AWC karena Provinsi Riau selama ini tidak cukup banyak dijadikan sampel untuk survei burung air dan sensus burung secara umum.

“Tidak banyak orang secara konsisten melakukan sensus burung air di kawasan kami, sehingga informasi ini akan berguna untuk memberikan pemahaman yang lebih baik terkait populasi burung air di Sumatra dan di Indonesia secara keseluruhan,” ujar Prayitno.

RER berencana melanjutkan keikutsertaannya dalam AWC di masa mendatang.

“Tiap tahun, kami mencatat makin banyak burung air menakjubkan yang mengunjungi area ini, termasuk burung penetap dan burung migran.

“Makin banyak data yang bisa kami kumpulkan dan sampaikan, makin banyak orang akan bisa melihat nilai penting Semenanjung Kampar,” ungkapnya.

Pada tahun 2017, RER menerbitkan Birds of the Kampar Peninsula: An Annotated Checklist (Daftar Periksa Beranotasi Burung Semenanjung Kampar), yang menguraikan keberadaan 299 burung langka dan hampir punah di kawasan restorasi hutan lahan gambut di Semenanjung Kampar dan sekitarnya.

Klik di sini untuk melihat daftar periksa burung 2017.

Berlangganan Berita Restorasi Kami