Desember 18, 2020

Sehari Bersama Jagawana RER

Apakah anda pernah membayangkan bagaimana cara melindungi sebuah landscape seluas dua kali Singapura yang penuh dengan medan yang sangat sulit? Mari kita berkenalan dengan Hendrizal dan tim jagawana kami yang menghabiskan waktunya berpatroli di dalam kawasan RER di Semenanjung Kampar.

Hendrizal adalah salah satu dari 60 jagawana RER, dan seperti karyawan kami lainnya, dia berasal dari masyarakat sekitar. Dia tumbuh dekat dengan hutan dan memutuskan untuk mendedikasikan diri untuk melindunginya sejak pertama kali bergabung pada 2017.

Hari-hari para jagawana biasanya dimulai dari dari Pos Jagawana Serkap, sekitar 10 km dari permukiman terdekat. Jagawana RER menganggap tempat ini sebagai rumah karena menyediakan tempat berteduh yang sangat dibutuhkan dari sulitnya medan hutan kawasan RER.

Hari ini, Hendrizal bersama dengan dua jagawana lainnya akan memulai patroli 5-hari di hutan. Mereka mempersiapkan barang-barang yang perlu dibawa dengan saksama karena berdasarkan laporan terakhir yang mereka terima kondisi hutan saat ini sebagian besar banjir – bahkan sampai sekitar 70 cm di beberapa tempat – yang akan membuat perjalanan ini sangat menyulitkan.

Peralatan yang perlu mereka bawa antara lain tempat tidur gantung dan jaring nyamuk, GPS, telepon satelit, binokular, parang, jas hujan, alat masak, bahan makanan dan P3K.

Mereka memulai patroli tepat jam 8 pagi. Menggunakan perahu kecil yang biasa disebut ketinting, Hendrizal dan timnya menyusuri Sungai Serkap sekitar satu jam sebelum akhirnya berhenti dan memulai perjalanan dengan darat. Sungai merupakan jalur transportasi paling penting di RER karena bisa mengurangi waktu tempuh dan energi.

Ada tiga sungai di kawasan RER Semenanjung Kampar yaitu Sungai Turip, Sungai Serkap, dan Sungai Sangar. Ketiga sungai tersebut sama pentingnya bagi upaya perlindungan dan restorasi hutan dan keanekaragaman hayatinya.

HENDRIZAL DAN TIM BERSIAP-SIAP UNTUK BERPATROLI

Setelah turun dari ketinting, mereka disambut dengan gambut yang lembut bagaikan spons yang akan menjadi rumah mereka setidaknya selama 5 hari ke depan. Mereka memulai tahapan patroli selanjutnya dengan berjalan kaki.

Pinggiran sungai tempat mereka menepi belum terbanjiri, begitupun sekitar tiga kilometer selanjutnya. Sekira satu jam berjalan, mereka menemukan jejak kaki Beruang Madu beserta kotorannya. Para jagawana segera mengeluarkan buku catatan mereka, handphone, dan GPS. Hendrizal mencatat koordinat penemuan ini di dalam catatannya, dan salah satu anggota lainnya mengambil foto jejak dan kotoran tersebut dengan handphone-nya.

Sebagian dari pengelolaan lanskap RER melibatkan pemantauan keanekaragaman hayati. Tim lapangan, baik itu jagawana, ahli ekologi, atau tim perlindungan hutan selalu mencatat dan melaporkan temuan-temuan terkait satwa atau tumbuhan yang mereka temui, khususnya yang termasuk dalam Daftar Merah IUCN.

Laporan-laporan ini nantinya akan digunakan oleh tim ekologi RER untuk mengkaji kesehatan lanskap atau untuk menetukan lokasi pemasangan kamera jebak agar bisa mendukumentasikan spesies tertentu dengan lebih baik. Ini adalah pertama kali jejak Beruang madu terekam di jalur ini. Temuan ini akan membantu tim ekologi RER untuk lebih memahami distribusi dan pola mencari makan spesies tersebut

Setelah mencatat temuan, Hendrizal dan tim melanjutkan patroli sambit terus waspada terhadap ancaman. Lalu, lebih cepat dari perkiraan awal, tanah perlahan-lahan mulai banjir sehingga mereka harus melanjutkan patroli dengan keadaan kaki yang terendam air. Tengah hari, mereka berhenti untuk makan siang, sebuah hidangan sederhana yang berisi nasi goreng dan daging kornet.

Mereka hanya beristirahat sebentar karena mereka harus sampai ke lokasi bermalam sebelum gelap.

Kembali berjalan, mereka terus waspada. Di waktu ini setiap tahun, banyak sekali oknum yang tidak bertanggung jawab memasang perangkap untuk menangkap penghuni hutan seperti harimau, beruang, atau pun satwa lain.

Setelah dua jam berjalan, mereka mendengar suara kepakan sayap burung rangkong yang sangat keras. Seketika mereka melihat ke atas mencoba menemukan lokasi suara. Mereka akhirnya menemukannya.

Diatas mereka ada sebuah sarang burung Rangkong Badak. Sepertinya ada beberapa anak burung di sana, tetapi sangat sulit memastikannya karena sarang tersebut berada 30 meter dari tanah.

Mereka kemudian mengeluarkan kembali buku catatan GPS, handphone, dan binokular untuk mencatat lokasi dan struktur sarangnya sehingga tim ekologi RER bisa mengkaji temuan yang sangat penting ini.

Setelah menghabiskan waktu cukup banyk di titik ini, mereka melanjutkan patroli. Masih ada sekitar tiga kilometer lagi menuju lokasi bermalam. Tanah yang banjir membuat perjalanan mereka lambat dan sulit, tetapi mereka terus maju.

Pada jam lima sore mereka akhirnya sampai di lokasi tujuan. Peluh, basah dan lelah, mereka segera menyiapkan tempat tidur gantung untuk berkemah. Di saat rekan-rekannya menyiapkan kemah dan makan malam, Hendrizal mengeluarkan telepon satelit dan menelepon pos jagawana untuk melaporkan temuan mereka hari ini dan untuk mendapatkan arahan untuk patroli hari berikutnya.

Hari ini merupakan hari yang sangat menantang, tetapi Hendrizal dan tim cukup senang karena tidak menemukan ancaman. Hari ini hanyalah hari biasa bagi paraga jagawana RER

Patroli jagawana dan upaya terus-menerus tim RER sangat penting untuk mencegah terjadinya aktivitas ilegal terhadap hutan dan para penghuninya.

Berlangganan Berita Restorasi Kami