Maret 10, 2017

Pemberdayaan Masyarakat Pulau Padang dengan Bercocok Tanam “Tanpa-Bakar”

PULAU PADANG – Senyum lembar terkembang di wajah Munir saat ia mengisi penuh wadah kecil yang ia bawa dengan hasil panen cabai merah. Panen pertama ini mungkin tidaklah besar karena masih di masa awal siklus pertumbuhan, namun berdampak besar pada kelompok tani “Family Blessings”.

Sebagai anggota kelompok tani “Family Blessings” di desa Lukit, kecamatan Merbau, kabupaten Meranti, provinsi Riau, Munip mendapat bantuan dan arahan dari Restorasi Ekosistem Riau (RER) dan Laskar Alam Riau melalui Program DemPlot tanaman hortikultura. Kolaborasi ini memberikan saran teknis serta peralatan/sarana produksi seperti misalnya mesin penyiram, bibit, pupuk, dan pestisida kepada tiap petani dalam kelompok tani. Program DemPlot berupaya meningkatkan perekonomian warga dengan mendorong peluang ekonomi yang dapat dijaga sendiri kesinambungannya sembari menjadi model bertani/bercocok tanam “tanpa-pembakaran”. Selain kelompok tani di Desa Lukit, Program DemPlot akan dijalankan juga dengan kelompok tani di tiga desa lainnya di Pulau Padang, yaitu desa Kudap, Selat Akar, dan Bandul. Tiap kelompok tani terdiri dari 8-12 orang.

Munip, yang juga mengajar di Madrasah Aliyah, merasa senang dengan kemajuan Program DemPlot yang dirintis oleh Laskar Alam Riau pada November 2016. Petani di Desa Lukit secara manual menyiapkan petak-petak lahan berukuran 25 m2 dan menanam cabai merah, cabai rawit, dan tomat. Tanaman sayur-mayur ini merupakan tanaman pokok bagi masyarakat, sangat cocok ditanam di tanah gambut yang bersifat asam, serta diminati dengan harga pasar yang tinggi.

“Saya sangat senang melihat hasil panen pertama, kami berterima kasih pada RER dan Laskar Alam Riau yang telah membantu memberi solusi untuk berbagai masalah pertanian. Kami optimis bahwa pada panen terakhir nanti di bulan Maret kami akan bisa mendapat 750kg cabai merah, 400kg cabai rawit, dan 51kg tomat. Setelah panen selesai, kami berencana memperluas DemPlot hingga satu hektar agar bisa menanam 2000 tanaman cabai rawit dan mendapatkan untung lebih besar”, ujar Munip.

Tanaman sayur-mayur akan dijual oleh kelompok tani kepada agen, dan kemudian akan didistribusikan ke pasar-pasar yang ada di Kecamatan Kepulauan Meranti. Bila tidak ada masalah signifikan terkait hama dan bila harga cabai tetap stabil, mereka memperkirakan bisa mendapat total uang sebesar Rp. 90.000.000 setelah panen terakhir.

Dibentuk pada 7 Agustus 2015, Laskar Alam merupakan suatu yayasan yang bergerak di bidang sosial, keagamaan, dan kemanusiaan, dengan lebih dari 60 anggota yang tersebar di beberapa desa di Pulau Padang, Kecamatan Kepulauan Meranti. Laskar Alam dipimpin oleh Abdul Mukhti yang berasal dari Kecamatan Kepulauan Meranti. Restorasi Ekosistem Riau (RER) menjalin kerja sama kemitraan dengan Laskar Alam pada awal tahun 2016 melalui Program Petak Percontohan (DemPlot) Tanaman Hortikultura yang merupakan program bersama pertama antara kedua lembaga.

“Terima kasih pada RER atas dukungan yang diberikan pada Program DemPlot Hortikultura sebagai perangkat belajar bagi warga untuk mencontohkan praktik bertani/bercocok tanam “tanpa-pembakaran”. Program ini bisa menjadi sumber penghasilan tambahan, dan saya berharap nantinya kelompok tani di tiap desa akan bisa mandiri dan mengembangkan kegiatan tani ini dalam skala yang lebih besar. Bantuan dari RER dan Laskar Alam Riau bagi para petani akan berlanjut agar diperoleh hasil yang optimal”, ujar Abdul di sela-sela panen.

 

Berlangganan Berita Restorasi Kami