April 21, 2021

International Mother Earth Day, Let’s Be Reminded Again

Tanggal 22 April setiap tahun diperingati sebagai Hari Bumi. Dan untuk kedua kalinya, hari penting ini dirayakan dalam kondisi yang sulit mengingat dunia masih menghadapi penyebaran virus korona yang belum terkendali.

Oleh karena itu, mari kita berkaca kembali mengenai pentingnya untuk memulihkan bumi karena apa yang terjadi saat ini merupakan buah dari perilaku kita terhadap alam. Perubahan iklim, deforestasi, alih fungsi lahan, pertanian intensif, peternakan dan perdagangan satwa liar bisa meningkatkan kemungkinan terjadinya kontak dan perpindahan penyakit menular dari satwa ke manusia.

Tidak hanya hal itu yang perlu dirisaukan, saat ini bahkan alam sepertinya sudah mulai tidak selaras. Berdasarkan laporan World Meteorological Organisation, tahun 2020 merupakan tahun kedua terpanas dalam sejarah. Dan, dekade 2011-2020 juga merupakan dekade terpanas dalam sejarah, dengan enam tahun terpanas tercatat mulai tahun 2015.

Tahun lalu bumi mengalami fenomena La Nina, yang seharusnya memiliki efek yang dapat mengurangi suhu global, yang terjadi justru pemanasan global terus berlanjut. Bahkan adanya pembatasan sosial skala global tidak dapat menahan kenaikan suhu.

Disaat dunia memulai proses pemulihannya, kita harus membangunnya lebih baik dengan berjalan beriringan bersama alam. Sektor swasta, sebagai pendorong pembangunan dapat membantu dengan lebih banyak melakukan investasi solusi berbasis alam seperti restorasi ekosistem.

Memulihkan hutan Semenanjung Kampar dan Pulau Padang

Tahun ini merupakan awal dimulainya UN Decade on Ecosystem Restoration. Dengan mencegah dan membalik degradasi ekosistem, kita bisa membuat planet ini lebih sehat. Restorasi ekosistem bertujuan untuk memulihkan ekosistem yang rusak, sekaligus melindungi ekosistem yang masih utuh. Ekosistem yang terpulihkan kaya akan keanekaragaman hayati dan mampu memberikan banyak manfaat seperti tanah yang subur, air bersih, mengatur banjir, menjaga iklim, dan sebagai tempat penyimpan gas rumah kaca.

Kawasan RER di Semenanjung Kampar

Kawasan RER di Semenanjung Kampar

Pada tahun 2013, APRIL, salah satu perusahaan penghasil pulp dan kertas terkemuka di Indonesia menginisiasi terbentuknya program Restorasi Ekosistem Riau. Saat ini, RER merupakan salah satu program restorasi ekosistem terbesar di Asia Tenggara yang didukung oleh pihak swasta. Program ini bertujuan untuk melindungi dan merestorasi lebih dari 150.000 hektar hutan rawa gambut bernilai ekologi penting di Semenanjung Kampar dan Pulau Padang, Provinsi Riau, Sumatra.

Dalam memulihkan dan melindungi kedua lanskap tersebut, RER menerapkan model lanskap produksi-proteksi yang terintegrasi. Model ini didasari oleh keberadaan hutan tanaman industri serat yang mengelilingi area RER, yang juga berfungsi untuk melindungi hutan rawa gambut dan kubah gambut yang ada di bagian dalamnya.

Model Pengelolaan Lanskap Produksi-Perlindungan APRIL

Model Pengelolaan Lanskap Produksi-Perlindungan APRIL

Hutan tanaman akasia yang dikelola secara berkelanjutan oleh APRIL menciptakan sebuah zona penyangga yang mampu mengurangi kemungkinan perambahan hutan, pembalakan liar dan kebakaran hutan. Hutan tanaman industri yang mengelilingi RER ini juga menyediakan sumber serat terbarukan yang bisa diolah menjadi produk yang bernilai tambah tinggi seperti pulp, kertas dan rayon yang dapat memberikan manfaat ekonomi dan menyediakan lapangan kerja.

Model ini terbukti sebagai model yang dapat diandalkan, konsisten dan efektif dalam mendukung upaya restorasi ekosistem di Indonesia mengingat besarnya sumber daya finansial dan teknis yang dibutuhkan untuk mengelola program seperti ini dalam jangka panjang.

Selama tujuh tahun perjalanannya, RER menunjukkan kemajuan yang perlahan namun pasti. RER terus meningkatkan inventaris keanekaragaman hayatinya dari sekitar 500 spesies pada 2016 menjadi sekitar 800 spesies tahun ini.

Restorasi hutan dan perlindungan aktif oleh para jagawana RER juga mampu mengembalikan kelembapan gambut, dan bahkan di beberapa lokasi, tim RER berhasil mengembalikan banjir musiman yang sangat penting bagi hutan rawa gambut. Hal ini juga sekaligus mengurangi resiko kebakaran hutan.

Selain itu, berdasarkan analisis Normalized Differential Vegetation Index (NDVI yang bisa dijadikan kesehatan hutan) selama periode 2012-2018 tercatat adanya peningkatan kondisi biomassa diatas lantai hutan gambut di Semenanjung Kampar.

Memulihkan bumi bukanlah pekerjaan yang mudah. Oleh karena itu, semua pihak harus berpartisipasi, termasuk sektor swasta. Model RER merupakan bukti bahwa kita bisa berproduksi sekaligus melindungi sebuah lanskap.

Mari kita sadari kembali betapa pentingnya planet ini. Cuma ada satu Bumi, ayo kita pulihkan!

Berlangganan Berita Restorasi Kami