September 30, 2016

Sosialisasi Program Restorasi Ekosistem (RE) kepada Warga Pulau Padang

Pelibatan dan dukungan masyarakat merupakan hal penting dalam upaya restorasi ekosistem. Dalam upayanya melakukan restorasi di tingkat lanskap, tim Restorasi Ekosistem Riau (RER) bertemu dengan perwakilan warga desa di Pulau Padang pada 22 September 2016 untuk melakukan sosialisasi program restorasi.

The RER team met with village representatives to familiarize the restoration program.

Tim rer bertemu dengan perwakilan warga desa untuk melakukan sosialisasi program restorasi.

Diluncurkan oleh APRIL di tahun 2013, program Restorasi Ekosistem Riau (RER) merupakan upaya untuk melindungi dan memulihkan hutan rawa gambut bernilai ekologi penting seluas 150.000 hektare di Semenanjung Kampar dan Pulau Padang, Riau, di tingkat lanskap.

Wakil pemerintah setempat dan aparat penegak hukum turut hadir dalam diskusi yang diikuti oleh 72 orang, termasuk perwakilan dari warga desa Mengkirau, Mengkopot, Tanjung Pisang, Selat Akar, Bandul, Kudap, Dedap, Mekar Delima.

The total area of RER site in Pulau Padang is 20,450 hectares of previously degraded forest.

Wilayah rer di pulau padang mencapai 20.450 hektar, dahulu merupakan hutan dalam kondisi rusak.

Dalam pertemuan tersebut, Hartjahjo Hariawan, Estate Manager RER Pulau Padang menggarisbawahi pentingnya upaya kolaborasi dalam memulihkan lahan gambut yang rusak di pulau tersebut. Wilayah RER di Pulau Padang mencapai 20.450 hektare hutan yand terdegradasi.

Menyambut hal ini, Abdul Hamid, camat Tasik Putri Puyu mengatakan bahwa pemerintah daerah dan masyarakat setempat setuju dengan upaya memulihkan lahan gambut di Pulau Padang. “Kami mengapresiasi apa yang telah dilakukan RER dalam memulihkan ekosistem lahan gambut di Pulau Padang melalui RER. Kami juga meminta perusahaan dan pemerintah mencegah kebakaran hutan dan lahan di daerah kepulauan Meranti,” ungkapnya.

Banyak warga menanyakan kemungkinan mereka dipekerjakan sebagai pegawai perusahaan, dan banyak juga warga dari desa Selat Akar, Kudap, dan Bandul yang menyatakan berminat ikut serta dalam penggunaan model wanatani untuk bercocok tanam serta berharap tim RER dapat segera meluncurkan program tersebut.

Hartjahjo menambahkan bahwa program restorasi ekosistem bersifat jangka panjang dan akan memerlukan waktu sebelum dapat terlihat hasilnya.

“Program pertanian di Selat Akar, Kudap, dan Bandul akan mulai tidak lama lagi. Kami akan melakukan pembahasan lebih lanjut dengan peserta mengenai detail program ini,” jelasnya.

Berlangganan Berita Restorasi Kami