Juli 30, 2019

Pelindung Hutan | Pelestarian Lingkungan | Jagawana

Menjaga hutan agar tetap lestari dan bebas dari kebakaran, pembalakan liar, dan perburuan ilegal merupakan tugas yang berat namun sangat layak dilakukan bila kita paham bahwa upaya tersebut penting bagi generasi mendatang.

Hal ini diungkapkan oleh Wahyudi, 37 tahun, dan Surya Saputro, 42 tahun, para jagawana Restorasi Ekosistem Riau (RER) yang masing-masing bertugas di Semenanjung Kampar dan di Pulau Padang.

“Menjadi jagawana merupakan pekerjaan yang sangat penting. Kami merawat dan melindungi hutan, yang merupakan ‘paru-paru’ dunia. Kami bangga bisa ada di sini, melindungi hutan dan sungai bagi masyarakat dan satwa, agar dapat terus dinikmati di masa depan,” ujar Wahyudi.

Saat ini ada 60 jagawana yang bekerja melindungi hutan seluas 150.000 hektar yang berada dibawah program RER. Dari 60 petugas tersebut, sebanyak 34 orang bekerja di Semenanjung Kampar sedangkan sisanya yaitu di Pulau Padang. Mereka dibagi mennjadi tujuh tim jagawana: empat di Semenanjung Kampar dan tiga di Pulau Padang.

wildlife-ranger

Melindungi kawasan hutan seluas 150.000 hektare tidaklah mudah. Petugas jagawana berjaga dan mengawasi apa yang terjadi di hutan

Semua jagawana mengikuti jadwal kerja yang sama, yaitu 20 hari kerja dan 10 hari libur per bulan, ujar Surya.

Jagawana RER umumnya mulai bekerja sejak pukul 8 pagi kecuali bila mereka baru menyelesaikan giliran jaga malam. Mereka melakukan patroli rutin di seputar hutan untuk mencegah pembalakan liar, penangkapan ikan ilegal, perburuan satwa, perambahan hutan, atau kebakaran hutan. Atau mereka bisa berjaga di pos penjagaan dan bersiaga bila terjadi sesuatu..

“Sebagai contoh, di Kampar, delapan jagawana akan ditugaskan untuk bekerja di Dusun Sangar untuk satu hari. Hal ini berarti enam petugas akan berjaga siang hari – empat orang akan berpatroli, dua orang akan berjaga di pos – dan dua orang lainnya mendapat giliran jaga malam di pos,” demikian Surya menjelaskan.

Kadang, para jagawana yang mendapat giliran siang perlu menginap di hutan bila patroli mereka terlalu jauh untuk kembali ke pos jaga sebelum gelap.

Tim RER telah melatih para jagawana untuk mengambil keputusan dengan cepat bila mereka melihat sesuatu yang tidak benar saat mereka berpatroli, ujarnya.

“Misalnya, bila mereka melihat ada penangkapan ikan ilegal, mereka harus menghentikannya, menahan pelakunya, dan melaporkannya ke tim RER,” ujar Surya.

fish-catches-monitoring

Pelibatan masyarakat dalam perlindungan, perencanaan, dan pengelolaan area konservasi merupakan hal penting.

Tiap patroli akan akan menjelajahi jarak sejauh 20km, oleh karena itu para jagawana harus benar-benar sehat dan bugar untuk bertugas, ungkap Wahyudi.

Mereka juga harus dibekali dengan kotak P3K dan parang, untuk berjaga-jaga bila memang diperlukan. “Kami tahu bahwa kawasan restorasi kami letaknya terpencil dan punya keanekaragaman hayati yang begitu besar, sehingga bisa jadi kami akan berjumpa dengan satwa liar. Kemungkinan perjumpaan ini merupakan tantangan terbesar kami,” ujar Wahyudi.

Akan tetapi, kunci dalam menghadapi tantangan tersebut ialah dengan tetap fokus, dan jagawana didorong untuk beristirahat dan memulihkan fokus bila diperlukan, ungkapnya.

Empat bulan lalu, terjadi situasi yang benar-benar tidak terlupakan. Saat itu mereka harus membantu penyelamatan seekor harimau Sumatra yang terkena perangkap jerat sekitar 100 meter dari area kosesi RER di tengah malam.

“Mendengar auman harimau merupakan momen yang sangat menakutkan sekaligus langka bagi kami,” ujar Surya.

Akan tetapi, bagi para jagawan, berjumpa dengan satwa liar di lingkungan aslinya seperti ini merupakan salah satu hal terbaik dari pekerjaan mereka.

“Sungguh menakjubkan bisa benar-benar dekat dengan alam, khususnya dengan hutan dan sungai. Kami selalu menemukan hal-hal baru tiap kali kami berkunjung ke hutan yang memperkaya pengetahuan kami,” ujar Wahyudi.

Berlangganan Berita Restorasi Kami