Februari 13, 2021

Ornitologi, Landasan Identifikasi Burung di RER

Pernah mendengar istilah ornitologi? Ornitologi merupakan salah satu cabang dari ilmu biologi yang khusus mendalami golongan aves atau burung. Para ahli dalam bidang keilmuan ini disebut sebagai ornitologis, yang juga mungkin lebih akrab dikenal dengan sebutan bird watcher karena banyak dari mereka yang memang gemar mengamati burung.

Ornitologi mempelajari seluruh aspek mengenai burung. Mulai dari penampilan fisik, kicauan burung, pola migrasi, pola penerbangan, kebiasaan, makanan, dan banyak lainnya.

Bagi tim Restorasi Ekosistem Riau (RER), Ornitologi adalah landasan keilmuan penting yang menjadi fondasi bagi setiap kegiatan pemantauan burung yang dilakukan oleh tim ekologi di lapangan.

Pemantauan burung atau bird monitoring merupakan salah satu metode penting dalam perlindungan dan restorasi 150.693 ha hutan gambut yang kaya keanekaragaman hayati di Semenanjung Kampar dan Pulau Padang.

Salah satu aspek yang menjadi perhatian penting di dalam upaya restorasi RER adalah memahamai kenakaragaman hayati yang hidup di dalamnya. RER sudah sejak tahun 2015 melakukan berbagai survei lapangan untuk memahami satwa-satwa yang ada di dalamnya, termasuk berbagai jenis burung.

Hingga saat ini sebanyak 307 spesies burung telah tercatat di kawasan RER, di luar catatan dari berbagai spesies tumbuhan, mamalia, primata, reptil dan amfibi yang terangkum dalam Laporan Kemajuan RER yang secara berkala diterbitkan setiap tahunDaerah Penting bagi Burung (DPB)Daerah Penting bagi Burung (DPB).

Ornitologi untuk Perlindungan Daerah Penting bagi Burung

Pada tahun 2003, Birdlife International menetapkan bahwa Semenanjung Kampar di Riau sebagai Daerah Penting bagi Burung Hutan Rawa Gambut Siak-Kampar yang di dalamnya termasuk area konsesi RER.

Penetapan wilayah ini sebagai Daerah Penting bagi Burung (DPB) ini didasari berbagai survei pada tahun 1992 – 1993 yang mencatat keberadaan 128 spesies burung di Semenanjung Kampar.

Sejak saat itu, telah tercatat sebanyak 307 spesies di kawasan ini, termasuk diantaranya delapan dari sembilan spesies rangkong yang ada di Sumatra, salah satunya adalah Rangkong Gading (Rhinoplax vigil) yang status konservasi globalnya CR atau kritis.
Terdapat juga Bangau Hutan Rawa (Ciconia stormi), Mentok Rimba (Asarcornis scutulata), serta Sempidan Merah (Lophura erythrophthalma).

Jumlah ini merupakan 40% dari 758 spesies burung yang terdeteksi di Sumatra. Dari 307, 241 spesies (79%) hidup di Semenanjung Kampar, 57 spesies (18%) merupakan burung migrasi, dan 9 spesies (3%) adalah gabungan keduanya.

Persentase burung migrasi ini menunjukkan pentingnya hutan rawa gambut di bagian tengah dan timur Sumatra bagi populasi burung dunia, di mana wilayah ini menjadi habitat penting bagi burung migran baik untuk beristirahat atau melewatkan musim dingin.

Di sinilah ornitologi berperan penting sebagai landasan untuk mengukur tingkat keberhasilan upaya restorasi yang dilakukan RER dan dampaknya bagi keanekaragaman hayati.

Salah satu kegiatan tahunan global yang kerap RER ikuti sebagai upaya konservasi burung air dan lahan basah adalah Sensus Burung Air Asia (Asian Waterbird Census/AWC).

RER telah berpartisipasi dalam survei tahunan ini sejak tahun 2017. Setiap tahunnya, beberapa anggota tim ekologi RER akan turun ke lapangan selama dua hari untuk mengamati dan mencatat keberadaan burung air di sekitar Sungai Kampar.

Selalu ada penemuan menarik dari setiap kegiatan AWC yang diikuti tim RER. Pada tahun ini, tim kami menjumpai burung Trinil Kaki Hijau (Common greenshank) yang terakhir terlihat di area tersebut pada tahun 2004.

Inventaris catatan populasi spesies burung di Semenanjung Kampar tidak akan dapat terwujud tanpa ilmu ornitologi yang harus dipahami oleh anggota tim ekologi RER.

Bagaimana Tim RER Mengidentifikasi Burung?

Lalu, bagaimana penerapan ilmu ornitologi ketika mengidentifikasi burung di lapangan?

Prayitno Goenarto, salah satu anggota tim ekologi RER, menjelaskan bahwa proses identifikasi burung di Semenanjung Kampar memerlukan peralatan yang tepat.

“Setiap orang yang memiliki ketertarikan terhadap burung dapat melakukan kegiatan birdwatching atau birdmonitoring ini.

Namun, tentu saja, ada peralatan tertentu yang dapat sangat membantu di lapangan,” terangnya.

Menurutnya, peralatan wajib bagi seorang bird watcher adalah:

• Teropong atau binocular
Merupakan peralatan dasar yang perlu dibawa ketika mengamati burung. Teropong yang cenderung ringan, mudah dibawa-bawa, dan tidak membutuhkan baterai merupakan alat yang tepat untuk pemantauan lapangan.

Pengamatan burung menggunakan teropong (binocular)

Pengamatan burung menggunakan teropong (binocular)

Teropong akan sangat membantu untuk lebih mengamati bulu burung dengan lebih rinci agar dapat melakukan identifikasi spesies.

Teropong juga memungkinkan pengamatan dari jarak yang aman agar keberadaan kita tidak mengganggu perilaku alami burung.

• Kamera
Salah satu alat yang sangat membantu dalam identifikasi burung karena kebanyakan burung hanya terlihat dalam hitungan detik sebelum kembali terbang.

Oleh karena itu, mempelajari fotografi berkaitan erat dengan pengamatan burung di lapangan.

Fotografi berkaitan erat dengan pengamatan burung

Fotografi berkaitan erat dengan pengamatan burung

Hasil dokumentasi yang baik akan mempermudah proses pencocokan bukti di lapangan dengan panduan yang tertera di buku atau sumber lain. Dokumentasi yang terekam dalam bentuk foto yang baik juga dapat menjadi bukti jika kita menemukan burung langka di lapangan. Selain itu, dokumentasi yang baik pun dapat menjadi referensi untuk identifikasi spesies burung selanjutnya.

Selain melalui fotografi, tim tim RER juga menggunakan kamera jebak. Tim memasang ratusan kamera di seluruh area konsesi. Kamera-kamera ini akan menangkap gambar dari berbagai spesies yang hidup di dalam area RER. Metode ini sangat berguna untuk membantu tim RER mengidentifikasi berbagai jenis spesies baru serta memastikan bahwa spesies-spesies yang telah tercatat dalam inventaris dalam kondisi aman dan sehat. Kamera jebak juga sangat membantu karena ada juga spesies burung atau aves yang mencari makan di lantai hutan seperti Sempidan Merah.

• Panduan Lapangan atau Field Guide

Buku panduan dalam mengidentifikasi burung

Buku panduan dalam mengidentifikasi burung

Biasanya berbentuk sebuah buku yang dapat dijadikan acuan untuk mengidentifikasi burung di wilayah yang berbeda-beda. Ilustrasi dan deskripsi yang terdapat dalam jenis buku ini akan membantu proses identifikasi spesies burung dan mengarahkan bird watchers untuk fokus ke bagian-bagian tertentu di lapangan.

• Buku Catatan

Diskusi tentang identitas spesies burung tertentu dan sketsa lapangan beberapa spesies burung yang dijumpai pada hari tersebut

Diskusi tentang identitas spesies burung tertentu dan sketsa lapangan beberapa spesies burung yang dijumpai pada hari tersebut

Selalu catat setiap hal yang ditemukan pada saat pemantauan. Selalu catat warna bulu, perilaku, ukuran, kicauan, dan hal-hal lainnya. Keterampilan menggambar ilustrasi juga dapat menjadi skill penunjang yang bagus dalam birdwatching karena kita tidak perlu lagi mengandalkan alat elektronik untuk merekam gambaran tentang burung yang kita temukan.

Tim RER juga selalu melakukan pemantauan burung secara berkelompok untuk meningkatkan kemungkinan identifikasi dan perbedaan tingkat pengetahuan mengenai burung yang mungkin akan terlihat akan memperkaya hasil yang ditemukan.

Selain itu, penting bagi tim untuk memahami field guide dan sejarah penampakan burung di kawasan Semenanjung Kampar dan Pulau padang sehingga bisa mengidentifikasi spesies-spesies burung yang sebelumnya pernah terdeteksi atau ada kemungkinan akan terdeteksi saat pengamatan dilakukan.

Seperti identifikasi terbaru RER Burung Trinil Hijau yang sebelumnya terakhir teridentifikasi pada 2004.

Bird watching dapat menjadi hobi baru yang membuat kita menghargai kekayaan alam sekaligus berkontribusi dalam menjaga keanekaragaman hayati Indonesia.

Berlangganan Berita Restorasi Kami