Oktober 28, 2016

Migrasi Burung Pemangsa di Semenanjung Kampar

Pada awal Oktober, tim Restorasi Ekosistem Riau (RER) memantau burung pemangsa yang berpindah dari tempat mereka mencari makan selama musim panas di belahan utara Asia atau Rusia ke wilayah Indonesia dan Malaysia, yang menjadi tempat mereka bermukim sepanjang musim dingin. Pemantauan ini dilakukan untuk mengidentifikasi seberapa banyak spesies burung migran yang memanfaatkan habitat hutan gambut di Semenanjung Kampar dan seberapa besar ketergantungan mereka pada area ini.

Burung pemangsa melewati Semenanjung Kampar dua kali dalam setahun, di musim semi dan musim gugur, dalam jumlah yang bervariasi. Tim Restorasi Ekosistem Riau (RER) ialah yang pertama memantau dan mendokumentasikan migrasi burung ini di Semenanjung Kampar. Mengamati burung-burung ini melintas menjadi acara populer dua kali dalam setahun di Tanjung Tuan, Port Dickson, Malaysia, di mana masyarakat mengamati dan menghitung burung yang melintasi Selat Malaka.

Setelah mengamati puluhan burung pemangsa di awal Oktober, Manajer Rehabilitasi dan Ekologi Hutan RER, Muhammad Iqbal, membentuk tim pemantau burung pemangsa tahun ini.

 

4 October 2016   

Seperti hari biasa di lapangan kami berkendara melewati jembatan Serkap dan saya melihat burung elang terbang rendah. Lantas menghentikan mobil saya untuk mencari tahu apakah ada burung lain. Begitu kami melangkah keluar, kami menghitung ada 13 ekor Sikep Madu Asia terbang rendah, dan 10 ekor lainnya terbang tinggi mengarah ke selatan. Kami berkesimpulan bahwa migrasi burung pemangsa telah dimulai, dan kami lalu merencanakan survei burung migran untuk minggu berikutnya. Burung Sikep Madu Asia (Pernis ptilorhynchus) merupakan burung pemangsa dengan tampilan wajah yang tidak terlihat seperti lazimnya burung pemangsa karena tidak adanya punggung alis yang mencolok, dan dengan ekor yang panjang dan jambul yang pendek. Burung pemangsa ini berkembang biak di Asia, mulai dari Siberia Tengah hingga Jepang Timur. Saat musim panas burung ini bermigrasi ke Siberia dan saat musim dingin ke Asia Tenggara.

Oriental Honey Buzzard (Pernis ptilorhynchus)

Burung sikep madu asia (Pernis Ptilorhynchus) terbang di atas tim rer yang sedang melakukan pemantauan migrasi burung pemangsa

7 Oktober 2016

Hujan deras sejak dini hari, menjadikan hari ini tidak ideal untuk melakukan survei burung pemangsa. Saya mulai agak siang, karena burung pemangsa tidak akan terbang tinggi ketika hujan turun. Saat mengemudi, saya melihat burung Elang Brontok (Nisaetus cirrhatus), burung pemangsa berukuran sedang, tengah hinggap di dahan pohon ramin. Burung campuran antara elang dan alap-alap ini berkembang biak di subkontinen India, terutama di India dan Sri Lanka, dan antara wilayah lingkar tenggara Himalaya melintasi Asia Tenggara ke arah Indonesia dan Filipina.

Setelah kami melintasi jembatan Serkap, seekor burung Sikep Madu Asia perlahan mengepakkan sayapnya ke arah selatan. Cuaca dingin membuat tidak ada lajur termal yang diperlukan burung ini untuk terbang melayang di ketinggian. Saat kembali, mengemudi sambil berharap cuaca besok akan lebih baik, saya melihat burung Elang Brontok yang sama masih bertengger di pohon yang sama.

 

8 Oktober 2016

Pagi hari yang cerah saat saya mengumpulkan anggota tim untuk melanjutkan pemantauan. Menjelang tengah hari, meski langit makin berawan, kami melihat burung Baza Hitam (Aviceda leuphotes), burung pemangsa berukuran kecil yang banyak dijumpai di hutan di Asia Selatan dan Asia Tenggara. Burung baza ini punya ciri jambul yang mencolok, dan saat migrasi burung baza ini kerap bertengger bersama-sama dan tampaknya lebih aktif di saat senja dan dalam cuaca berawan.

Tidak lama kemudian, sekelompok burung Sikep Madu Asia, sebanyak sepuluh ekor, terlihat terbang rendah, dan total burung pemangsa yang berhasil dihitung hari ini ialah 107 ekor.

Migration represents an interesting natural phenomenon where these solitary raptors gather to utilize thermals and travel great distances.

Migrasi merupakan fenomena alam yang menarik, di mana burung pemangsa yang soliter akan berkumpul untuk memanfaatkan aliran termal dan menempuh perjalanan jauh.

Kami terdorong untuk melihat burung-burung pemangsa di lokasi RER di Semenanjung Kampar, karena hal ini menunjukkan bahwa hutan dalam kondisi sehat dan membawa harapan bagi upaya perlindungan dan restorasi jangka panjang yang dilakukan melalui program RER. Hutan yang sehat menyediakan makanan, air, dan tempat beristirahat bagi burung-burung migran yang berkontribusi pada kesehatan dan populasi kelompok burung ini selama masa migrasi.

Diluncurkan tahun 2013, total area restorasi dalam RER mencapai 150.000 hektar hutan gambut yang memiliki nilai penting ekologi di Semenanjung Kampar dan Pulau Padang.

Berlangganan Berita Restorasi Kami