Agustus 13, 2019

Hidupan Liar RER: Tupai Akar

Mari kita berkenalan dengan Tupai Akar (Tupaia glis). Satwa ini merupakan satwa mamalia berukuran kecil yang menjadi bagian dari famili Tupaiidae, salah satu dari dua famili tupai di dunia.

Satwa ini merupakan satwa asli Thailand dan Malaysia serta Indonesia. Tupai ini merupakan spesies yang umum dijumpai dan saat ini digolongkan oleh IUCN (International Union for Conservation of Nature) sebagai spesies yang Resiko Rendah (LC).

Tupai Akar merupakan salah satu tupai yang ukuran tubuhnya paling besar, dengan panjang tubuh rata-rata mencapai 16 s.d. 21 cm dan bobot rata-rata 190 gram.

wildlife-common-treeshrew

TUPAI AKAR MERUPAKAN SPESIES DENGAN STATUS RISIKO RENDAH (LC)

Tupai ini berwarna coklat kemerahan, dengan bagian atas tubuhnya berwarna hitam atau keabuan dan perut berwarna putih. Ekornya yang panjang dan tebal bak sikat – biasanya berwarna coklat gelap keabu-abuan – memiliki panjang yang kurang-lebih setara dengan panjang tubuhnya.

Tupai Akar memiliki telapak yang terbuka, dengan cakar yang panjang dan tajam yang digunakan untuk memanjat. Satwa ini memiliki moncong panjang dan lancip, telinga kecil, dan mata sedang.

Dalam hal tampilan fisik, tupai jantan dan betina memiliki penampakan yang kurang-lebih sama.

Tupai Akar kebanyakan menghuni hutan primer, namun diketahui mampu beradaptasi dengan habitat yang telah berubah, seperti misalnya hutan sekunder, perkebunan buah, dan pepohonan dekat area pemukiman.

Tupai Akar merupakan satwa yang sanggup memanjat dengan lincah, dan kadang akan loncat dari satu batang pohon ke pohon lainnya. Satwa ini aktif di siang hari, dan dapat terlihat mencari makan sendirian atau bersama pasangannya, terutama di tanah permukaan hutan di dekat lubang pohon, dahan yang jatuh, dan semak belukar.

Tupai Akar merupakan satwa omnivora yang memakan buah-buahan yang jatuh ke tanah, dedaunan, dan serangga seperti misalnya semut, laba-laba, dan bahkan kadang kadal.

Satwa ini kerap menandai wilayahnya menggunakan bau-bauan dari kelenjar yang ada di bagian dada dan kantung buah pelirnya. Tupai jantan dewasa cenderung lebih banyak melakukan penandaan dengan bau semacam ini dibandingkan dengan tupai betina dewasa atau tupai remaja.

Tupai jantan dan betina akan mencapai kematangan seksual setelah usia tiga bulan. Antara Oktober hingga Desember, tupai akar tidak aktif bereproduksi, sedangkan musim kawin akan dimulai bulan Desember dan berakhir di bulan Februari.

Setelah masa kehamilan selama 40 s.d. 52 hari, tupai akar betina biasanya melahirkan satu hingga tiga ekor bayi tupai.
Bayi tupai yang baru lahir akan berbobot sekitar 10 s.d. 12 gram, dan lebih sering akan ditelantarkan oleh kedua induknya, dan tupai betina hanya akan memberi makan anaknya sesekali dalam tiap sekian hari. Bayi-bayi tupai ini bahkan bisa sepenuhnya diabaikan bila mereka tidak diberi penanda bau oleh kedua induknya.

wildlife-common-treeshrew

TUPAI AKAR MERUPAKAN SATWA OMNIVORA YANG MEMAKAN BUAH-BUAHAN YANG JATUH KE TANAH, DEDAUNAN, DAN SERANGGA

Tupai muda akan mencapai usia dewasa dengan cepat dan meninggalkan sarang induknya setelah usia satu bulan, dan tupai jantan remaja diketahui lebih awal meninggalkan sarangnya dibandingkan betina.

Meskipun Tupai Akar saat ini tidak digolongkan sebagai satwa yang menghadapi ancaman bahaya kepunahan, satwa ini tetap menghadapi ancaman dari kerusakan hutan.

Spesies ini juga menghadapi tekanan dari manusia, karena mereka diburu untuk dijadikan makanan atau untuk kesenangan olahraga.

Berlangganan Berita Restorasi Kami