Mei 23, 2018

Hidupan Liar RER: Pohon Meranti Paya

Kawasan Restorasi Ekosistem Riau (RER) di Semenanjung Kampar merupakan rumah bagi 152 spesies tumbuhan. Salah satunya ialah Pohon Meranti Paya, dengan nama ilmiah Shorea platycarpa.

Selain di Sumatra, spesies ini juga dapat dijumpai di Semenanjung Malaya dan di Singapura. Tumbuhan ini menyandang status konservasi Kritis (CR) yang diberikan oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN).

Karena habitatnya, mudah saja untuk memahami mengapa Meranti Paya menyandang status Kritis tersebut. Spesies ini hanya ditemukan di sepanjang pinggiran sungai di hutan rawa gambut, dan jarang ditemukan tumbuh jauh di dalam hutan. Di kalangan pedagang, Meranti Paya dikenal dengan nama ‘Meranti Merah’. Jenis kayu ini mudah mengapung dan mudah dipindahkan. Gabungan antara kedua hal ini membuat spesies ini menjadi sasaran empuk bagi para pelaku pembalakan liar.

Meranti Paya

MERANTI PAYA JUGA DIKENAL DENGAN NAMA ‘MERANTI MERAH’. JENIS KAYU INI MUDAH MENGAPUNG & DIPINDAHKAN.

Sejak awal, RER telah memprioritaskan Meranti Paya sebagai spesies sasaran untuk konservasi dan restorasi. Selain menjaga spesies ini, RER juga berupaya membiakkannya dengan cara menanam tumbuhan ini sebagai tumbuhan restorasi di habitat alamnya di sepanjang sungai. Akan tetapi, ada hambatan besar, yaitu batang anakan spesies Meranti ini amatlah jarang dijumpai, dan bila berhasil ditemukan, biasanya usianya sudah cukup tua.

Sebagai bagian dari upaya konservasi atas spesies ini, dilakukan survei tumbuhan Meranti Paya di sepanjang dua sungai yang ada di Semenanjung Kampar, yaitu Sungai Sangar dan Sungai Serkap. Koordinat tiap pohon Meranti Paya yang dijumpai di sepanjang kedua sungai tersebut dicatat, dan diameter batang pohon juga diukur dan dicatat. Selain itu, pohon yang ditemukan juga diberi tanda yang tidak mencolok dengan cat aluminium.

Meranti Paya

SEJAK AWAL, RER TELAH MEMPRIORITASKAN MERANTI PAYA SEBAGAI SPESIES SASARAN UNTUK KONSERVASI DAN RESTORASI.

Tim RER telah melakukan pemantauan fenologi atas spesies ini sejak tahun 2016 untuk mengetahui kapan tumbuhan ini berbunga, berbuah, dan kapan buahnya menjadi matang. Tujuan utama kegiatan ini ialah mengumpulkan biji buah dan menanam biji tersebut di lokasi yang perlu direstorasi – khususnya di sepanjang sungai. Area-area ini diamati tiap dua bulan.

Pada bulan Februari 2018, setelah hampir dua tahun memantau spesies ini, tim RER menyaksikan spesies Meranti Paya bermekaran – tidak hanya satu pohon, tapi kebanyakan pohon di sepanjang sungai Serkap. Spesies ini juga terlihat mekar di sepanjang Sungai Turip, sejalan dengan kenyataan bahwa spesies Meranti dikenal sebagai spesies yang berkembang serempak.

Meranti Paya

MUSIM BERBUNGA MENJADI KESEMPATAN BAIK UNTUK MENGUMPULKAN BIJI/BENIH DAN BIBIT TUMBUHAN UNTUK KEPERLUAN RESTORASI HUTAN DAN KONSERVASI SPESIES KRITIS INI.

Banyak satwa, termasuk tikus, tupai, landak, dan babi hutan suka memakan biji meranti. Karena pohon Meranti Paya akan memekarkan bunganya dan berbuah secara serempak, maka terdapat surplus biji di periode tersebut. Spesies ini relatif terjaga, dalam arti tidak semua biji dari pohon tersebut akan langsung menjadi santapan hewan sekaligus.

Musim berbunga menjadi kesempatan baik untuk mengumpulkan biji/benih dan bibit tumbuhan untuk keperluan restorasi hutan dan konservasi spesies kritis ini.

Akan tetapi, periode antara satu musim berbunga dan musim berbunga berikutnya akan berbeda untuk tiap spesies Meranti. Ini pertama kalinya spesies Meranti Paya di Semenanjung Kampar teramati menghasilkan buah sejak tahun 2010, ketika pertama kalinya biji tumbuhan ini ditanam dan menghasilkan pohon-pohon yang ada saat ini. Berdasarkan hal ini, sepertinya musim berbunga untuk Meranti Paya di Semenanjung Kampar ialah sekitar tujuh tahun.

Oleh: Muhammad Iqbal – Ahli Ekologi RER

Berlangganan Berita Restorasi Kami