Januari 30, 2019

Hidupan Liar RER: Owa Ungko

Mari kita berkenalan dengan Owa Ungko (Hylobates agilis), yang juga dikenal dengan nama wau-wau. Satwa mamalia ini bagian dari famili Hylobatidae dan merupakan satwa asli di Sumatra, Indonesia. Satwa primata ini juga satwa asli di Semenanjung Malaya dan Thailand.

Satwa ini merupakan satu dari 71 spesies mamalia yang telah teridentifikasi di kawasan Restorasi Ekosistem Riau (RER) di Semenanjung Kampar.

Owa Ungko oleh IUCN (International Union for Conservation of Nature) digolongkan sebagai satwa dengan status konservasi Terancam (EN) dan merupakan satu dari tiga spesies mamalia yang hampir punah yang telah teridentifikasi di RER.

OWA UNGKO OLEH IUCN DIGOLONGKAN SEBAGAI SATWA YANG TERANCAM (EN) & MERUPAKAN SATU DARI TIGA SPESIES MAMALIA HAMPIR PUNAH YANG TERIDENTIFIKASI DI RESTORASI EKOSISTEM RIAU

Owa Ungko memiliki bulu dengan warna berkisar antara hitam hingga coklat kemerahan. Owa di Semenanjung Kampar ditemukan punya bulu yang warnanya lebih gelap dibandingkan dengan owa di tempat-tempat lain di Sumatra Selatan.

Satwa ini punya alis berwarna putih, dan owa jantan bisa dibedakan dari pipinya yang berwarna putih atau abu-abu terang. Umumnya owa ungko memiliki berat tubuh antara empat hingga enam kilogram, dengan panjang kepala dan tubuh berkisar antara 44 dan 63cm. Ukuran tubuh owa jantan sedikit lebih besar dibandingkan owa betina.

Owa bukanlah monyet, namun kera. Oleh karenanya, seperti kera lainnya, owa ungko tidak punya ekor.

Owa ungko merupakan satwa arboreal, yang artinya hidupnya banyak dihabiskan di pepohonan di hutan hujan tropis, lebih sering berada di pucuk kanopi dan jarang turun ke permukaan tanah. Owa berpindah menggunakan lengannya – mengayun di antara cabang dan batang pohon menggunakan lengan panjangnya yang digerakkan dengan cepat.

Owa ungko merupakan satwa frugivora – satwa dengan buah sebagai makanan utama – namun satwa ini juga diketahui memakan daun, bunga, dan serangga.

Owa ungko merupakan satwa monogami yang hidup berpasangan di wilayah yang dijaga ketat. Sekumpulan owa ungko dalam bahasa inggris disebut ‘flange’.

Like other gibbon species, Agile gibbons perform morning calls, with both male and females participating in this activity. These calls serve as territorial marking since they do not use scents to mark. Territorial disputes between gibbons rarely involve physical contact.

Seperti spesies owa lainnya, Owa Ungko jantan dan betina memperdengarkan suara khasnya di pagi hari. Bunyi-bunyian ini menjadi penanda wilayah karena owa tidak menggunakan bau-bauan tubuh sebagai penanda. Perselisihan wilayah antara sesama owa jarang melibatkan baku fisik.

Irama lagu Owa Ungko diawali dengan letupan suara pendek-pendek yang kemudian menjelma menjadi lolongan panjang yang penuh melodi. Jika jenis owa lain mengeluarkan suara bernada rendah ke tinggi, Owa Ungko justru berbeda karena nada suaranya akan naik terlebih dahulu dan baru kemudian turun ke nada rendah.

Masa kehamilan spesies ini ialah tujuh bulan, dan sesudahnya owa betina akan melahirkan keturunannya satu ekor saja. Owa muda ini disapih hingga usianya mencapai dua tahun, dan akan meninggalkan keluarganya untuk mencari pasangan ketika sudah sepenuhnya dewasa di usia sekitar delapan tahun.

Owa Ungko menjadi spesies yang Terancam karena hilangnya habitat, dan juga karena satwa ini diperdagangkan secara ilegal sebagai satwa eksotis.

Owa Ungko adalah satwa dilindungi berdasarkan hukum yang berlaku di Indonesia, dan masuk dalam Appendix I CITES (Convention on the International Trade of Endangered Species), suatu perjanjian internasional antarnegara yang mengatur perdagangan internasional spesies satwa dan tanaman liar. Spesies dalam CITES I merupakan spesies yang terancam punah.

Berlangganan Berita Restorasi Kami