Januari 30, 2019

Hidupan Liar RER: Kura-Kura Sungai Raksasa

Mari berkenalan dengan Kura-kura Sungai Raksasa (Orlitia borneensis), atau juga dikenal sebagai Kura-kura Gading atau Biuku, yang masuk dalam famili Geoemydidae, famili terbesar kura-kura yang ada saat ini.

Dapat dijumpai di Indonesia dan Malaysia, spesies ini merupakan kura-kura air tawar terbesar di Asia Tenggara. Spesies ini merupakan spesies semi-akuatik, dan tinggal di danau besar, rawa, dan sungai dengan arus yang tidak kencang.

Kura-kura Sungai Raksasa merupakan salah satu dari 107 spesies amfibi dan reptil yang telah teridentifikasi di kawasan Restorasi Ekosistem Riau (RER).

KURA-KURA SUNGAI RAKSASA BISA MENCAPAI BOBOT 50 KG. KAKINYA YANG BESAR DILENGKAPI DENGAN SELAPUT YANG MENYERUPAI KAYUH, SERTA CAKAR YANG PANJANG DAN TEBAL.

Kura-kura jantan dapat dibedakan dari betina karena ekornya yang lebih panjang dan lebih tebal.

Kura-kura Sungai Raksasa oleh IUCN (International Union for Conservation of Nature) digolongkan sebagai satwa dengan status konservasi Terancam (EN) dan merupakan salah satu dari empat reptil dengan status hampir punah yang teridentifikasi di RER.

Kura-kura ini memiliki tempurung/karapas (cangkang berbentuk cembung yang biasanya menghadap ke arah atas) yang mulus, oval, dan berwarna coklat gelap atau kehitaman, dan bisa mencapai panjang 80 cm. Sementara itu, bagian plastron (bagian cangkang yang nyaris rata yaitu di bagian perut) umumnya berwarna coklat pucat kekuningan hingga putih kotor.

Kura-kura Sungai Raksasa bisa mencapai bobot 50 kg. Kakinya yang besar dilengkapi dengan selaput yang menyerupai kayuh serta cakar yang panjang dan tebal. Kura-kura jantan dapat dibedakan dari betina karena ekornya yang lebih panjang dan lebih tebal.

Kura-kura Sungai Raksasa menghabiskan kebanyakan waktunya di air, dan jarang meninggalkan air. Satwa ini kebanyakan memakan ikan sebagai sumber makanan utama. Akan tetapi kura-kura ini juga bisa memakan buah yang jatuh dari pohon atau satwa vertebrata lainnya.

Pada banyak kesempatan di RER, kura-kura sungai raksasa terlihat terjebak dalam perangkap ikan karena ia berupaya memakan ikan yang sudah terlebih dahulu terperangkap, dan kadang merusak perangkap ikan tersebut. Bila ini terjadi, staf lapangan dan jagawana RER harus membebaskan kura-kura ini dari perangkap.

Kura-kura Sungai Raksasa juga kadang harus dilepaskan dari kait pancing yang dipasang oleh penangkap ikan, karena kura-kura ini berupaya memakan umpan yang dipasang dan kemudian tersangkut kaitnya.

Seperti halnya kura-kura dan penyu lainnya, Kura-kura Sungai Raksasa akan menggali sarang di lumpur atau pasir untuk bertelur, meninggalkan telurnya untuk menetas, dan bayi kura-kura akan harus mempertahankan dirinya sendiri dari serangan pemangsa. Anak kura-kura yang baru menetas pernah ditemukan di RER, yang menunjukkan bahwa Kura-kura Sungai Raksasa berkembang biak atau bertelur di area RER.

Meskipun peraturan di Indonesia menyatakan bahwa spesies ini resmi dilindungi, Kura-kura Sungai Raksasa masih banyak diekspor dalam jumlah besar dari Indonesia.

Daging satwa reptil raksasa ini banyak dicari sebagai makanan, dan eksploitasi terus-menerus terhadap spesies ini membuat populasinya turun dengan cepat. Di Riau, orang asli memburu kura-kura ini untuk makanan, atau untuk dijual.

Berlangganan Berita Restorasi Kami