Mei 08, 2018

Hidupan Liar RER: Kukang Sunda

Mari kita berkenalan dengan Kukang Sunda (Nycticebus coucang), yang juga dikenal dengan nama “malu-malu.”

Satwa mamalia ini merupakan satwa asli Indonesia, Semenanjung Malaya, Singapura, dan Thailand, dan di alam liar sanggup hidup hingga usia 20 tahun.

Kukang Sunda merupakan salah satu dari 718 spesies dalam keanekaragaman hayati yang telah teridentifikasi di kawasan Restorasi Ekosistem Riau (RER) di Semenanjung Kampar.

Satwa ini dapat dikenali dari lingkaran berwarna gelap yang ada di seputar matanya yang besar, yang memiliki lapisan khusus untuk memantulkan cahaya. Kukang Sunda memiliki bulu dengan warna berkisar dari coklat muda hingga coklat gelap kemerahan, dan dengan bobot sekitar 600 gram.

Sunda slow loris (Nycticebus coucang)

SATWA INI DAPAT DIKENALI DARI LINGKARAN BEWARNA GELAP YANG ADA DI SEPUTAR MATANYA YANG BESAR, YANG MEMILIKI LAPISAN KHUSUS UNTUK MEMANTULKAN CAHAYA.

Seperti manusia dan kera, Kukang Sunda adalah satwa primata dengan ibu jari yang dapat menghadap ke jari-jari lainnya, sehingga satwa ini dapat mencengkeram dahan pohon. Kukang Sunda dalam bahasa inggris disebut slow loris, karena pergerakannya yang memang lambat (slow) ketika berpindah antara dahan pepohonan, dalam gerakan unik yang mirip gerakan merayap.

Seperti satwa kukang lainnya, Kukang Sunda merupakan satwa arboreal – yang artinya hidup di pepohonan – dan satwa nokturnal – yang pada siang hari beristirahat di percabangan pohon atau di area dengan vegetasi yang rimbun di hutan lebat.

Dengan laju metabolisme yang sangat rendah dibandingkan dengan mammalia lain di Semenanjung Kampar, Kukang Sunda memakan buah-buahan, serangga, nektar bunga, dan getah pohon.

Sebagai bagian dari famili kukang, Kukang Sunda mampu memproduksi racun di kelenjar yang ada di bagian dalam sikunya, menjadikan kukang sebagai satu-satunya spesies primata yang berbisa.
Racun ini digunakan untuk melindungi dirinya dari pemangsa dalam dua cara – yaitu ditempatkan di bulunya sendiri atau di bulu bayinya, sehingga bayi kukang akan tetap terlindungi meskipun induknya sedang tidak di tempat.

Akan tetapi cara utama Kukang Sunda menghindari pemangsa ialah dengan bersembunyi.

Sejak tahun 2008, Kukang Sunda oleh IUCN (International Union for Conservation of Nature) digolongkan sebagai satwa dengan status Rentan (VU). Spesies dengan status ini adalah spesies dengan risiko kepunahan yang sangat tinggi, dengan jumlah populasi saat ini kurang dari 1.000 ekor.

Spesies ini juga masuk dalam daftar Appendix I CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora), suatu perjanjian internasional antarnegara yang mengatur perdagangan internasional spesies satwa dan tanaman liar. Spesies CITES I adalah spesies yang terancam punah.

Kukang Sunda menghadapi ancaman kepunahan karena hilangnya habitat, namun yang lebih mengkhawatirkan ialah karena naiknya permintaan jual-beli satwa peliharaan eksotis, khususnya di Indonesia. Satwa ini kadang digunakan dalam pembuatan obat-obatan tradisional ilegal, yang oleh sebagian orang diyakini mampu menyembuhkan 100 jenis penyakit.

Berlangganan Berita Restorasi Kami