September 14, 2018

Hidupan Liar RER: Ikan Tapah

Mari kita berkenalan dengan Ikan Tapah (Wallago Leerii), spesies ikan air tawar berkumis (catfish) yang masuk dalam famili Siluridae.

Ikan ini merupakan satwa asli di Asia Tenggara serta di Pulau Sumatra dan Borneo/Kalimantan pada kepulauan Sunda Besar. Ikan ini dapat ditemukan di danau dan sungai besar.

Ikan Tapah merupakan salah satu dari 89 spesies ikan yang telah teridentifikasi di kawasan Restorasi Ekosistem Riau.

Ikan Tapah bisa tumbuh besar hingga berukuran panjang lebih dari satu meter. Badan ikan ini berwarna gelap dengan garis-garis keperakan yang tidak mencolok. Ikan Tapah tidak memiliki duri tulang belakang di muka sirip punggungnya yang berukuran kecil. Sirip perutnya juga berukuran kecil.

Ikan ini memiliki mulut yang besar yang penuh dengan gigi tajam. Ikan ini juga memiliki rahang bawah yang lebih panjang dibandingkan dengan rahang atasnya, serta dua pasang kumis pendek. Rahang atas ikan ini menunjukkan jati dirinya sebagai predator aktif yang dapat mencaplok mangsanya dari permukaan atau di dalam air. Kumisnya membantu menemukan mangsa di air yang keruh.

IKAN TAPAH ADALAH KARNIVORA PEMAKAN IKAN LAINNYA.

Ikan Tapah adalah karnivora pemakan ikan lainnya. Mangsa ikan ini kebanyakan berupa spesies ikan kecil dengan panjang maksimum 10 s.d. 12 cm.

Ikan Tapah tercatat sebagai salah satu spesies ikan berkumis setempat yang paling besar, rakus, dan aktif memangsa ikan lokal yang hidup dengan baik di sungai dan danau.

Ikan ini berkembang biak sepanjang musim hujan. Ketika tinggi permukaan air naik dan membanjiri permukaan tanah di hutan, ikan ini akan berkumpul di dekat permukaan tanah hutan untuk bertelur.

Ikan yang telah mengeluarkan telurnya bisa dikenali dari adanya guratan di tubuhnya karena menabrak dahan atau benda-benda keras lainnya saat tengah bertelur di air yang dangkal. Tanda guratan ini berguna bagi nelayan yang menghindari menangkap ikan yang belum bertelur.

Ikan Tapah telah digunakan sebagai bahan makanan di Asia Tenggara sejak dulu kala. Ikan ini biasanya dijual di pasar sebagai ikan segar atau ikan asap. Jumlah ikan ini telah banyak berkurang karena terlalu banyak ditangkap sebagai bahan makanan.

Saat ini Ikan Tapah masih belum dievaluasi oleh IUCN (International Union for Conservation of Nature). Akan tetapi, bila tidak dikelola dengan baik dan bila terus terjadi penangkapan ikan yang berlebihan atau yang merusak, bersama dengan rusaknya habitat dan masuknya spesies asing, ikan ini bisa jadi tidak akan lagi ditemukan di sungai.

Berlangganan Berita Restorasi Kami