Maret 26, 2021

Hidupan Liar RER: Bulus Raksasa

Mari berkenalan dengan Bulus Raksasa atau Labi-labi Raksasa! Memiliki nama latin Pelochelys cantorii, Bulus Raksasa merupakan salah satu spesies kura-kura air tawar yang berukuran besar.

Dikenal lebih luas dengan nama Giant Softshell Turtle, spesies ini tersebar di Asia Barat Daya yang meliputi India hingga Cina Selatan (termasuk Hainan). Bulus Raksasa juga terdapat di beberapa wilayah di Asia Tenggara, termasuk pulau Sumatra, Jawa, dan Kalimantan di Indonesia.

Habitat dan Karakteristik Bulus Raksasa

Habitat utama Bulus Raksasa berada di sekitar danau, pantai laut, atau muara sungai besar. Itulah mengapa Bulus Raksasa merupakan salah satu spesies yang teridentifikasi dalam publikasi Kura-Kura Semenanjung Kampar yang disusun oleh tim Restorasi Ekosistem Riau (RER).

Bulus Raksasa juga merupakan satu dari 101 spesies reptil dan amfibi yang teridentifikasi di wilayah RER.

Bulus Raksasa (Pelochelys cantorii)

Bulus Raksasa. Kredit Foto: Chey Kuolang

Giant Softshell Turtle dapat tumbuh hingga mencapai panjang tempurung/karapas antara 60 hingga 100 cm dengan berat mencapai 50 kg.

Spesies ini memiliki tempurung gepeng, cenderung lembek, dan mulus tanpa sisik luar cangkang yang biasa terlihat pada kura-kura dengan tempurung keras.

Tempurung atau karapas Bulus Raksasa berwarna abu-abu kehijauan tanpa pola-pola tertentu yang terdapat pada tempurung spesies kura-kura lain. Bagian bawah tubuhnya berwarna putih, kemerahan, atau kekuningan.

Kepalanya cukup lebar dengan leher panjang, terdapat beberapa benjolan kecil di sekitar lehernya. Spesies ini memiliki hidung yang menyerupai belalai pendek.
Sekilas, wajahnya menyerupai katak. Itulah mengapa ia juga kerap disebut sebagai Bulus Raksasa berwajah katak.

Bulus Raksasa memiliki sisi lateral lebih panjang dari jenis kura-kura lain dan merupakan jenis kura-kura berkarapas lunak terbesar.

Umumnya, Bulus Raksasa jantan dan betina dapat dibedakan melalui bentuk ekornya, dimana yang jantan memiliki ekor yang lebih panjang dibanding betina.

Namun, Bulus Raksasa betina berukuran lebih besar dari yang jantan.

Perilaku dan Pola Berkembang Biak

Mangsa utama Bulus Raksasa adalah organisme air seperti ikan, krustasea, moluska, dan beberapa tumbuhan air. Karenanya, Bulus Raksasa juga tergolong sebagai omnivora.
Kepala yang agak gepeng dan mata yang cukup lebar mengindikasikan spesies ini melakukan penyergapan tiba-tiba pada mangsanya.

Ketika berburu, Bulus Raksasa akan mengeluarkan kepalanya dengan cepat dari tempurungnya sambil membuka mulutnya untuk menangkap mangsa hidup yang dapat bergerak lincah seperti ikan.

Bulus Raksasa diidentifikasikan sebagai spesies yang kuat dan buas. Ketika merasa terancam, ia dapat melakukan serangan ‘pukulan tanpa gigitan’ dengan kepalanya.

Sebagai spesies yang berkembang biang dengan bertelur, Bulus Raksasa dapat bertelur tiga kali dalam setahun. Sebagaimana kura-kura pada umumnya, Bulus Raksasa juga akan mengubur telur-telurnya di sebuah kantung telur di dalam pasir. Lokasi kantung telur ini berada diatas titik pasang sungai.

Satu kantung telur Bulus Raksasa rata-rata berisi 24 hingga 70 telur, sedangkan rata-rata periode inkubasi telurnya adalah sekitar 60 hari.

Meski demikian, tidak semua telur itu dapat menetas dengan selamat, penyebabnya adalah seleksi alam dan diperparah dengan perburuan liar terhadap telur spesies ini.

Morfologi Bulus Raksasa yang baru saja menetas tak jauh berbeda dari yang dewasa.

Hanya saja, perbedaan akan tampak pada warna tempurung yang berwarna hitam dengan bintik-bintik berwarna kuning pucat. Tepi karapasnya juga tampak berwarna putih.

Status Konservasi

Menurut IUCN (International Union for Conservation of Nature), Giant Softshell Turtle tergolong sebagai satwa dengan status konservasi Terancam (Endangered/EN).

Status konservasi Bulus Raksasa yang mengkhawatirkan ini tak terlepas dari tingginya aktivitas perburuan illegal yang mengancam keberadaan mereka di alam liar

Status konservasi Bulus Raksasa yang mengkhawatirkan ini tak terlepas dari tingginya aktivitas perburuan illegal yang mengancam keberadaan mereka di alam liar. Kredit Foto: Sun Yoeung

Populasi Bulus Raksasa di alam liar mengalami penyusutan yang cukup drastis karena keerusakan yang terjadi pada habitat alami mereka serta maraknya perburuan liar.
Penangkapan Pelochelys cantorii untuk konsumsi manusia terjadi hampir di setiap wilayah persebaran spesies ini.

Beberapa kasus penangkapan spesies ini terjadi karena tersangkut pada jaring ikan yang dipasang oleh nelayan lokal.

Di wilayah Semenanjung Kampar, tim RER fokus dan konsisten memberikan edukasi kepada masyarakat lokal untuk melakukan metode penangkapan ikan yang lestari termasuk dengan menjaga spesies kura-kura.

Berlangganan Berita Restorasi Kami