April 30, 2019

Hidupan Liar RER: Buaya Sepit

Mari kita berkenalan dengan Buaya Sepit, buaya air tawar yang juga dikenal dengan nama Malayan gharial atau Sunda gharial. Nama ilmiahnya, Tomistoma schlegelii, dalam bahasa Yunani berarti ‘mulut yang tajam’.

Satwa ini merupakan satwa asli di Sumatra dan Jawa, Indonesia serta di Semenanjung Malaya dan Borneo, dan adalah satu dari dua spesies buaya yang telah teridentifikasi di kawasan Restorasi Ekosistem Riau (RER).

Buaya Sepit juga merupakan salah satu dari 55 spesies yang terancam di tingkat global yang sejauh ini telah teridentifikasi di RER.

BUAYA SEPIT ADALAH BUAYA BERUKURAN BESAR, DAN BUAYA JANTAN BISA MENCAPAI PANJANG 5 M SEDANGKAN BUAYA BETINA MENCAPAI 4 M.

Buaya ini sepertinya punya tengkorak kepala yang paling besar dibandingkan dengan buaya lain di ordo Crocodilia (ordo yang terdiri dari buaya (crocodile), aligator (alligator), dan buaya moncong runcing (gharial)). Tersebut bahwa enam dari delapan tengkorak krokodilian yang paling panjang (dari spesies yang ada) yang dipajang di berbagai museum di dunia merupakan tengkorak Buaya Sepit.

Panjangnya tengkorak ini karena moncong satwa ini memang panjang dan langsing, yang memang khusus dirancang untuk menangkap ikan. Meskipun ikan merupakan makanan utamanya, Buaya Sepit juga memakan satwa krustasea seperti kepiting, dan satwa vertebrata yang ukurannya lebih besar, termasuk monyet bekantan, monyet makaka, burung, dan rusa.

Buaya Sepit kebanyakan dijumpai di hutan rawa di dataran rendah dan rawa gambut, dan amat gemar menghabiskan waktunya merendam diri di bawah permukaan air.

The False Gharial

Its eyes and nose sit on top of its head, so it can still see or hear what’s going on even when it’s submerged.

Semua ini memberikan keuntungan, karena mangsa yang lengah tidak akan memperhatikan bahwa ada buaya yang nyaris tidak kelihatan berada di dekatnya saat mereka mendekat ke pinggiran air.

Seperti buaya lainnya, Buaya Sepit membunuh mangsanya dengan mengatupkan mulutnya dengan kekuatan dahsyat, menahan dan mengoyak mangsanya dengan gigi yang amat tajam. Buaya ini menelan mangsanya dalam keadaan utuh atau dalam potongan besar.

Sebagai satwa reptil, Buaya Sepit adalah satwa berdarah dingin. Bila merasa terlalu dingin, buaya ini akan naik ke darat untuk berjemur di bawah matahari. Setelah itu buaya ini akan kembali ke air ketika tubuhnya sudah dingin kembali.

SEBAGAI SATWA REPTIL, BUAYA SEPIT ADALAH SATWA BERDARAH DINGIN.

Dibandingkan spesies buaya lain, telur buaya sepit tampaknya berukuran paling besar – lebih dari tiga kali berat telur ayam biasa.

Buaya betina bertelur sebanyak 13 s.d. 35 butir telur per sarang, dan mereka cenderung meninggalkan sarangnya dengan segera setelah bertelur.

The False Gharial

BUAYA SEPIT PUNYA GIGI YANG SANGAT TAJAM.

Hal ini yang membedakan Buaya Sepit dari buaya lainnya, karena buaya muda nyaris tidak diurusi oleh induknya, dan harus bertahan hidup menghadapi risiko dimangsa oleh predator seperti garangan, harimau, macan dahan, dan anjing liar.

Telur buaya sepit menetas setelah 90 hari, dan sesudah itu anak buaya ini harus bisa menjaga dirinya sendiri.

Buaya.Sepit oleh IUCN (International Union for Conservation of Nature) digolongkan sebagai spesies Rentan (VU) karena populasi global satwa ini diperkirakan kurang dari 2.500 ekor dewasa.

Berlangganan Berita Restorasi Kami