Juli 24, 2021

Hidupan Liar RER: Bangau Nganga

Bangau Nganga (Anastomus oscitans) adalah bangau berukuran sedang. Burung ini dapat ditemui di bagian tropis Asia Selatan mulai dari India sampai dengan Asia Tenggara.

Bangau ini akan bermigrasi pada musim dingin untuk mencari makanan sekaligus untuk berkembang biak.

Bangau Nganga merupakan salah satu dari 163 burung yang dijumpai tim Restorasi Ekosistem Riau (RER) dalam Sensus Burung Air Asia (Asian Waterbird Census/AWC) tahun 2021di Semenanjung Kampar.

Bangau Nganga - pertama kali tercatat selama AWC di Indonesia maupun Semenanjung Kampar. Baca lebih lanjut tentang pengamatan luar biasa ini

Bangau Nganga berhasil teramati SELAMA SENSUS BURUNG AIR ASIA 2021 DI SEMENANJUNG KAMPAR.

Habitat
Habitat utama Bangau Nganga adalah lahan basah. Mereka dapat terlihat mencari makan di sekitar danau dan rawa-rawa atau muara yang dangkal.

Burung ini pun sering terlihat di daerah pertanian di mana mereka mencari makan di lading yang diairi dan saluran irigasi.

Bangau Nganga cenderung mencari makan di daerah dengan curah hujan tinggi. Mereka biasanya membangun sarang di cabang-cabang pohon yang tingginya sekitar lima meter.

Karakteristik
Bangau Nganga adalah bangau berukuran sedang, rata-rata panjang tubuh mereka sekitar 68 hingga 81 cm, dengan lebar sayap berkisar antara 147 hingga 149 cm. Bangau Nganga biasanya memiliki berat antara 1,3 kg hingga 8,9 kg.

Bangau Nganga didominasi bulu berwarna putih pucat atau keabuan dengan ekor hitam bercabang, sayap hitam dan kaki merah muda atau abu-abu.

Fitur yang paling mencolok dari burung ini adalah paruhnya berwarna kuning kusam keabuan dengan celah yang terbentuk antara rahang bawah dan rahang atas yang melengkung pada burung dewasa.

Tepi lengkungan pada rahang bawahnya memiliki struktur seperti sikat yang dapat membantu mereka menjepit cangkang siput dengan kuat.

Bangau Nganga jantan dan betina memiliki sedikit sekali perbedaan morfologi. Satu-satunya cara untuk membedakannya adalah dengan memperhatikan posisi mereka saat musim kawin.

Bangau Nganga yang masih muda memiliki warna kecokelatan pada bulunya, membuat mereka lebih mudah dibedakan dari yang dewasa.

Perilaku
Bangau Nganga adalah burung migrasi dan juga satwa diurnal yang lebih aktif di siang hari dibandingkan pada malam hari. Ketika bermigrasi, mereka mengandalkan termal, atau arus udara hangat untuk mencapai ketinggian tertentu dan meluncur dalam jarak jauh.

Mereka sering membentuk koloni dan bersarang dalam jumlah besar di pohon dengan spesies bangau dan burung air lainnya.

Bangau Nganga selalu berada dekat dengan koloninya dengan sarang yang dibangun di pohon-pohon tinggi sebagai bentuk perlindungan dari predator bagi anak-anaknya.

Seperti bangau pada umumnya, Bangau Nganga cenderung jarang mengeluarkan suara. Suara yang mereka keluarkan untuk saling memanggil satu sama lain berupa bunyi “hu-hu” dan suara dengkuran rendah yang hanya terdengar dari jarak dekat.

Bangau Nganga menggunakan paruhnya untuk membuat suara bising sebagai metode utama dalam berkomunikasi. Metode ini juga merupakan bentuk komunikasi yang penting selama musim kawin.

Makanan
Sebagai karnivora, makanan Bangau Nganga terdiri dari invertebrata air seperti kepiting, cacing, katak, ikan dan siput. Namun kadal, serangga besar dan ular juga dapat menjadi santapan mereka.

Bangau Nganga - pertama kali tercatat selama AWC di Indonesia maupun Semenanjung Kampar. Baca lebih lanjut tentang pengamatan luar biasa ini

Bangau Nganga (Anastomus oscitans) - Risiko Rendah (LC) dalam Daftar Merah IUCN

Ketika berburu, mereka akan bergerombol sebagai kawanan di daerah air dangkal. Namun, tak jarang pula Bangau Nganga berburu makanan sendiri. Mereka sangat mengandalkan penglihatan dan sentuhan untuk mendeteksi mangsa.

Bangau Nganga biasanya menelan mangsanya secara utuh, tetapi mereka juga dapat menggunakan rahang bawahnya yang tajam dan runcing untuk menghancurkan mangsa bercangkang seperti siput dan mengeluarkan dagingnya.

Peran bagi ekosistem
Bangau Nganga menghasilkan kotoran yang menjadi nutrisi bagi tumbuhan di lahan basah sehingga meningkatkan populasi tanaman, kepiting dan ikan.

Itulah mengapa Bangau Nganga juga berfungsi sebagai indicator yang efektif bagi kesehatan ekologi di lahan basah.

Meskipun status konservasi mereka dikategorikan sebagai Risiko Rendah (LC) dalam Daftar Merah IUCN, perburuan spesies ini cukup merajalela karena daging dan telurnya dianggap sebagai makanan bernilai dan dijual dengan harga tinggi.

Berlangganan Berita Restorasi Kami