Januari 17, 2023

Buaya dan Aligator, Apa Bedanya?

Apakah buaya dan alligator berbeda? Sekilas, kedua spesies ini tampak serupa dan memiliki banyak kesamaan, namun terdapat beberapa perbedaan signifikan antara buaya dan alligator.

Mungkin banyak dari kita yang pernah mempertanyakan: apakah buaya dan alligator termasuk ke dalam genus yang sama? Mana yang lebih agresif antara buaya dan alligator?

Di artikel ini, kami akan menjawab pertanyaan-pertanyaan penting terkait buaya dan alligator, dan menjelaskan lima perbedaan mendasar buaya dan alligator.

Apakah perbedaan antara buaya dan alligator?

Ukuran buaya dan alligator
Manakah yang memiliki ukuran tubuh lebih besar di antara buaya dan alligator? Sebenarnya, ukuran tergantung pada jenis kelamin dan usia dari masing-masing individu. Biasanya, jantan tertua di dalam suatu kelompok akan memiliki ukuran tubuh paling besar, sedang bayinya tak akan lebih besar dari ukuran kadal dan buaya remaja umumnya berukuran sebesar kucing.

Secara umum, terdapat sedikit perbedaan ukuran tubuh antara buaya dan alligator. Buaya dewasa dapat tubuh dengan panjang tubuh maksimum sekitar 4,3 meter sedangkan alligator dapat mencapai panjang 5,8 meter dari moncong hingga ekor.

Secara alami, variasi ukuran ini akan memengaruhi berat keseluruhan satwa. Meskipun alligator dapat memiliki berat antara 225kg hingga 540kg, ternyata buaya terbesar dapat memiliki bobot tubuh antara 365kg hingga 450kg.

Perbedaan visual
Buaya pertama kali muncul dalam catatan fosil sekitar 90 juta tahun yang lalu, sedangkan alligator muncul di akhir Cretaceous, mendekati kepunahan era dinosaurus sekitar 65 juta tahun yang lalu.

Keduanya termasuk ke dalam ordo Crocodylia yang memiliki nenek moyang evolusioner yang sama. Ordo Crocodylia terdiri dari tiga keluarga yang berbeda:

1. Alligatoridae (alligator)
2. Crocodylidea (buaya)
3. Gavialidae (gavial)

Sehingga, pada dasarnya buaya dan alligator dapat disebut juga sebagai sepupu evolusioner, dengan beberapa karakteristik utama yang membedakan kedua spesies ini.

Bentuk moncong
Jika diperhatikan dengan seksama, terdapat perbedaan pada bentuk moncong buaya dan alligator. Buaya memiliki moncong yang panjang dan runcing menyerupai huruf V, sedangkan moncong alligator memiliki ujung yang lebih pendek, besar dan bundar, menyerupai huruf U.

Buaya memiliki moncong yang panjang dan runcing menyerupai huruf V

Selain bentuk moncongnya, bentuk rahang kedua spesies ini juga berbeda. Alligator memiliki rahang bagian atas yang lebih lebar dari rahang bagian bawahnya, sehingga gigi-gigi alligator tak akan terlihat ketika mulutnya tertutup. Berbeda dengan buaya yang gigi di rahang bagian bawahnya terletak di luar mulut dan membentuk lekukan di sepanjang rahang atas. Hal ini membuat gigi-gigi buaya akan tetap terlihat meski mulutnya sedang tertutup.

Perbedaan warna
Perbedaan lainnya yang cukup mencolok adalah warna dari buaya dan alligator. Jika Anda kebetulan melihat salah satu reptil raksasa ini di daratan, ketahuilah jika yang Anda lihat berwarna hijau tua, abu-abu atau hitam maka Anda melihat alligator. Namun, jika yang Anda lihat cenderung berwarna hijau dan coklat, maka itu adalah buaya.

Habitat dan kebiasaan
Salah satu petunjuk lainnya untuk mempermudah identifikasi perbedaan buaya dan alligator adalah habitat di mana masing-masing spesies ini tinggal. Terdapat kelenjar garam lingual di lidah buaya yang memungkinkan mereka mengeluarkan kelebihan kadar garam dalam tubuh, sehingga mayoritas buaya berhabitat di air asin.

Sementara itu, meskipun alligator memiliki kelenjar garam yang sama, kelenjar ini tidak bekerja seefektif yang dimiliki buaya, sehingga membatasi toleransi alligator terhadap air asin dan membuat spesies ini lebih dominan berada di air tawar seperti danau dan rawa untuk mencari makan, berlindung dan bersarang.

Aligator lebih dominan berada di air tawar seperti danau dan rawa

Perbedaan toleransi terhadap kadar garam ini juga menjelaskan pola distribusi yang berbeda dari kedua spesies ini. Spesies buaya dapat ditemukan di seluruh benua Amerika, Afrika, Asia dan Australia, sedangkan alligator lebih banyak ditemukan di Amerika Utara dan Selatan. Buaya air asin merupakan beberapa yang terbesar di dunia, ditemukan di Sungai Amazon, Nil dan Zambezi.

Mana yang lebih agresif?
Pada umumnya, alligator cenderung takut kepada manusia. Meski demikian, alligator akan menyerang jika ia merasa terdapat ancaman pada sarang atau anak-anaknya. Namun, dibandingkan serangan yang dilakukan oleh buaya, alligator hanya menyumbang sekitar 6% dari keseluruhan serangan yang dilakukan oleh ordo Crocodylia terhadap manusia.

Sementara itu, buaya lebih rentan menyerang manusia, meski tanpa alasan. Terutama di daerah-daerah di mana buaya dan manusia harus berbagi habitat—seperti di rawa payau di pedalaman Australia—banyak tercatat kasus penyerangan buaya terhadap manusia yang terlalu dekat ke tepi air. Beberapa di antara kasus tersebut bahkan berakibat fatal.

Penjelasan ini sekaligus menjawab pertanyaa: mana yang lebih agresif antara buaya dan alligator? Jawabannya adalah buaya. Meski demikian, alligator tetaplah predator yang juga memiliki kemampuan untuk menyerang manusia jika merasa terancam.

Perbedaan kekuatan gigitan buaya dan alligator
Selain perbedaan bentuk rahang yang berpengaruh pada bentuk dan komposisi gigi, terdapat perbedaan juga pada kekuatan gigitan buaya dan alligator. Gigi buaya dibuat untuk menerkam mangsa yang besar seperti zebra, rusa kutub, babi dan sapi. Itulah mengapa bentuk giginya runcing dan tajam seperti pisau. Sementara itu, gigi alligator berbentuk kerucut seperti pasak karena digunakan untuk menghancurkan mangsanya seperti kura-kura dan ikan.

Karena buaya butuh menjatuhkan hewan yang lebih besar, maka gigitannya pun lebih kuat hingga dapat mencapai 3.700 pon per inci persegi (PSI), sedangkan kekuatan gigitan alligator mencapai sekitar 2.500 PSI. Coba saja bandingkan kekuatan tersebut dengan kekuatan gigitan manusia yang hanya mencapai 120 hingga 160 PSI.

Jejak buaya di Riau
Setelah kita dapat membedakan antara buaya dan alligator, salah satu tempat untuk mempelajari spesies ini lebih lanjut adalah di Restorasi Ekosistem Riau (RER); kawasan hutan lindung dan lahan basah seluas 150.693 hektar di Semenanjung Kampar dan Pulau Padang di Riau, Sumatra.

Habitat yang dilindungi ini memiliki banyak rawa payau, teluk air asin dan tepian sungai yang tidak terjamah manusia. Setelah menyimak berbagai penjelasan di atas, tentunya Anda tahu spesies mana yang dapat banyak ditemui di RER, kan?

Buaya sepit (Tomistoma schlegelii)

Benar, buaya. Faktanya, terdapat dua spesies buaya yang teridentifikasi tinggal di kawasan RER: Buaya sepit (Tomistoma schlegelii) dan Buaya muara (Crocodylus porosus). Mari kita lihat lebih dekat kedua reptile raksasa menakjubkan ini dan apa saja perbedaan di antara keduanya:

Buaya sepit

Berasal dari Malaysia, Sumatra dan Jawa Spesies buaya terbesar di dunia
Hidup di rawa air tawar dan danau
Berwarna cokelat kemerahan
Moncong panjang dan ramping, lebih lebar di bagian pangkalnya
Dapat tumbuh hingga mencapai panjang 5 meter
Dapat memiliki bobot tubuh maksimal hingga 210kg
Kurang dari 10.000 spesies tersisa di alam liar
Terancam kehilangan habitat akibat perburuan dan kebakaran
Berstatus Rentan (VU) dalam daftar

Buaya muara

Spesies buaya terbesar di dunia
Tersebar dari India, Asia Tenggara hingga Australia
Hidup di air tawar dan air asin
Dapat tumbuh hingga mencapai panjang 6 meter
Beratnya dapat mencapai 1.300kg
Dapat hidup hingga 70 tahun
Memiliki gigitan paling kuat dibanding satwa manapun
Dianggap berbahaya bagi manusia
Berstatus Risiko Rendah (LC) dalam daftar IUCN

Buaya sepit dan Buaya air asin hanyalah dua dari 101 spesies reptil dan amfibi yang teridentifikasi di RER. Buaya sepit juga merupakan salah satu dari 55 spesies terancam punah yang tinggal di kawasan RER. Cari tahu seputar spesies-spesies lainnya dalam warta lapangan RER.

RER Special Report 2023