Februari 16, 2017

RER Menyampaikan Laporan Perdana Inventarisasi Keanekaragaman Hayati Kampar

Program Restorasi Ekosistem Riau (RER) telah merampungkan sekalilgus menerbitkan inventarisasi keanekaragaman hayati yang pertama kali dilakukan di kawasan hutan rawa gambut di Semenanjung Kampar.

Laporan ini merupakan hasil dari kegiatan selama hampir delapan bulan di lapangan – yang dalam laporan ini disebut sebagai “salah satu lingkungan yang paling tidak bersahabat dan menantang di muka bumi” – oleh sebuah tim survei khusus dari mitra kerja RER, Fauna & Flora International (FFI).

Inventarisasi ini mencakup spesies tumbuhan kayu dan non-kayu, serta spesies mamalia, burung, reptil, dan amfibi. Laporan ini mengungkapkan bahwa ada sebanyak 43 spesies yang juga masuk dalam International Union for Conservation of Nature (IUCN) Red List sebagai spesies yang Kritis (Critically Endangered), Trancam Punah (Endangered), atau Rentan (Vulnerable).

Tiga dari empat konsesi IUPHHK-RE (Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu – Restorasi Ekosistem) yang diberikan kepada APRIL di Semenanjung Kampar oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI termasuk dalam laporan yang berjudul “Keanekaragaman Hayati di Semenanjung Kampar”. Inventarisasi terhadap pemegang IUPHHK-RE yang keempat akan dilakukan tahun ini.

Sebanyak 32 transek dan 220 titik kamera jebak disiapkan di tiga area konsesi agar tim FFI dapat memperoleh informasi yang tidak hanya mencakup spesies, namun juga gambar-gambar yang menakjubkan.

Inventarisasi ini mencatat adanya 72 spesies mamalia, termasuk mengkonfirmasi keberadaan lima dari enam spesies kucing yang ada di Sumatra yang terekam melalui kamera jebak. Sebanyak 15 dari 72 spesies mamalia yang tercatat tersebut merupakan spesies yang dinyatakan terancam di tingkat global, dan dua di antaranya — harimau Sumatra dan Trenggiling Sunda — digolongkan sebagai satwa berstatus konservasi Kritis (CR).

Harimau Sumatra merupakan satu-satunya megafauna (satwa besar) yang berhasil dicatat keberadaannya dari empat megafauna yang diketahui ada Sumatra. Laporan ini menyebutkan bahwa dari tiga megafauna lainnya, hanya gajah Sumatra yang diketahui tidak menggunakan habitat rawa gambut. Namun tidak demikian halnya dengan badak Sumatra dan Tapir Asia. Survei di masa mendatang bisa jadi akan mengungkap keberadaan kedua megafauna ini.

Inventarisasi tumbuhan mencatat adanya 112 spesies pohon dan 40 spesies non-pohon; inventarisasi burung mencatat 220 spesies burung dari 53 keluarga; dan inventarisasi amfibi dan reptil secara berurutan mencatat sebanyak 14 dan 61 spesies.

Dari sepuluh spesies kura-kura yang ditemukan, kura-kura sungai raksasa dan tuntong laut merupakan spesies yang dilindungi di Indonesia, dan laporan ini menyebutkan bahwa “keberadaan kedua spesies ini menunjukkan pentingnya upaya konservasi, karena keduanya merupakan spesies yang sangat terancam punah.” Laporan ini turut menambahkan, “sejumlah besar kura-kura sungai raksasa terlihat masuk dalam perangkap yang dipasang oleh masyarakat, serta tidak sengaja ikut terjaring bersama ikan tangkapan. Kura-kura ini dijual dan dikonsumsi secara lokal.”

Tujuan dari penyusunan inventarisasi keanekaragaman hayati ini ialah membantu menetapkan data dasar ekologi untuk menyusun rencana pengelolaan yang komprehensif guna memastikan perlindungan dan restorasi jangka panjang di Semenanjung Kampar.

Program RER dibentuk oleh APRIL pada tahun 2013 sebagai bagian dari komitmen perusahaan untuk melakukan konservasi dan restorasi atas satu hektar hutan alam untuk satu hektar hutan tanaman industri. Program RER merupakan bentuk kemitraan yang tidak berorientasi pada laba yang dilakukan bersama oleh perusahaan dan lembaga masyarakat. RER bertujuan melindungi dan memulihkan hutan rawa gambut seluas 130.000 hektar di Semenanjung Kampar, salah satu kawasan hutan rawa gambut terbesar yang masih tersisa di provinsi Riau. APRIL telah memberikan komitmen senilai US$100 juta untuk mendukung konservasi keanekaragaman hayati dan pembangunan masyarakat melalui izin usaha Restorasi Ekosistem.

Direktur FFI untuk kawasan Asia-Pasifik, Dr. Tony Whitten mengatakan, “masih banyak bagian dari Semenanjung Kampar yang masih belum terdokumentasi oleh para ilmuwan, dan hanya sedikit yang diketahui tentang ekologi dan keanekaragaman hayati hutan rawa gambut, sungai, dan danau yang ada di sana. Pemahaman komprehensif tentang ciri ekologi kawasan menjadi prasyarat untuk dapat mengelola semenanjung ini sebaik mungkin dan dengan cara-cara yang pragmatis. Oleh karenanya, tugas pertama ialah melakukan survei ekstensif untuk memperoleh data dasar.”

Lihat laporan selengkapnya disini.

Berlangganan Berita Restorasi Kami