Mei 09, 2017

Pembahasan tentang Nilai Konservasi Tinggi di Lanskap RER Bersama Masyarakat

Mengelola lanskap Restorasi Ekosistem Riau (RER) bukan tugas yang mudah. Diperlukan pengetahuan yang komprehensif tentang karakter kawasan tersebut agar pengelolaan lanskap dapat dilakukan secara efektif sekaligus melindungi ekosistem lahan gambut dengan pendekatan lanskap yang memperhatikan keberlanjutan.

Fauna & Flora International (FFI) dan RER saat ini sedang menyelesaikan kajian Nilai Konservasi Tinggi (HCV/High Conservation Value) untuk kawasan RER yang berada di bawah pengelolaan PT Gemilang Cipta Nusantara (GCN), PT The Best One Unitimber (TBOT), dan PT Sinar Mutiara Nusantara (SMN) untuk melengkapi pengetahuan tentang nilai konservasi di kawasan RER.

As one of the key stages in the HCV assessment, FFI conducted Public Consultation at Teluk Meranti District Office on April 6th, 2017.

Sebagai salah satu tahap penting dalam kajian hcv, ffi mengadakan konsultasi publik bertempat di kantor kecamatan teluk meranti pada 6 april 2017.

Sebagai salah satu tahap penting dalam kajian HCV, FFI mengadakan konsultasi publik di kantor kecamatan Teluk Meranti pada 6 April 2017. Setidaknya 50 orang dari berbagai desa di sekitar lanskap RER, lembaga masyarakat sipil, dan perwakilan instansi pemerintah ikut ambil bagian dalam kegiatan tersebut.

Konsultasi tersebut penting guna menyampaikan informasi yang sudah didapat FFI dan mengkonfirmasikannya dengan para pemangku kepentingan di sekitar kawasan RER. “Melalui pertemuan hari ini, kami berharap akan timbul semangat bersama untuk melestarikan lingkungan dengan memperhatikan aspek keberlanjutan sekaligus melindungi fauna, flora, dan nilai-nilai masyarakat setempat yang selama ini sudah berjalan,” ungkap Muhammad Iqbal, Ahli Ekologi Restorasi RER.

Kajian HCV mengikuti perangkat HCV National Interpretation dan dokumen panduan HCV Resource Network yang memperhatikan keragaman spesies, ekosistem dan mosaik di tingkat lanskap, ekosistem dan habitat, jasa lingkungan, kebutuhan dasar masyarakat, serta nilai-nilai budaya.

LOCAL COMMUNITY RER

Kajian HCV diperlukan untuk menetapkan kondisi dasar bagi ukuran nilai konservasi penting di kawasan.

Konsultasi publik diselenggarakan melalui diskusi kelompok guna memperoleh verifikasi atas data dan informasi yang telah dikumpulkan, serta untuk mendapatkan informasi serta masukan tambahan terkait hasil temuan HCV dan batas area yang disampaikan oleh Tim Kajian HCV dari FFI.

Secara umum, peserta kegiatan mengkonfirmasi temuan yang disampaikan. Masukan yang diberikan peserta difokuskan pada aspek pengelolaan dan pemantauan terhadap area pengelolaan HCV yang telah diidentifikasi.

Joseph Hutabarat, asesor HCV berlisensi dari FFI Indonesia berulang kali menyatakan, “Studi ini agak berbeda dengan kajian HCV lainnya, yang biasanya digunakan untuk memberi masukan bagi rencana pengelolaan seputar ekstraksi hutan, seperti misalnya kelapa sawit, hutan tanaman industri, atau konsesi penebangan hutan, yaitu agar area yang diidentifikasi sebagai HCV tidak terkena dampak. Kajian HCV kali ini dimaksudkan untuk memberi masukan bagi rencana pengelolaan seputar restorasi dan perlindungan hutan.

Akan tetapi, tambahnya, asesmen HCV diperlukan untuk menetapkan kondisi dasar bagi ukuran nilai konservasi penting di kawasan. Dengan demikian, perlu dipastikan bahwa rencana pengelolaan oleh pihak perusahaan akan tetap menjaga atau bila mungkin meningkatkan HCV.

Di akhir acara, Bapak Hutabarat mengingatkan adanya dorongan dari peserta bagi unit manajemen agar selalu menjalankan operasinya dengan secara kolaboratif, sehingga dapat menciptakan sinergi dengan para pemangku kepentingan dalam pengelolaan area yang memiliki nilai konservasi tinggi.

Berlangganan Berita Restorasi Kami