Mei 17, 2019

Menyoroti Pentingnya Pengelolaan Lanskap yang Efektif di GLF Kyoto

Director of External Affairs Restorasi Ekosistem Riau (RER), Nyoman Iswarayoga, menyoroti pentingnya mengadopsi pendekatan jangka panjang dengan berbagai pemangku kepentingan dalam mengelola restorasi lanskap saat beliau berbicara di Global Landscapes Forum (GLF) di Kyoto, Jepang, minggu ini. Kegiatan tersebut, yang diselenggarakan 22 tahun setelah Protokol Kyoto ditandatangani, difokuskan pada pengelolaan lanskap secara berkelanjutan sebagai solusi iklim yang penting.

Bertemakan ‘Iklim, Lanskap, dan Gaya Hidup: Belum Terlambat’, kegiatan tersebut menghadirkan para pemimpin dari komunitas ilmuwan, lembaga pembangunan, pemerintah, masyarakat adat, serta pelaksana proyek dan masyarakat sipil untuk berbagi pemikiran dan gagasan untuk mewujudkan masa depan iklim yang lebih baik.

Saat memberikan penjelasan di hadapan forum, Nyoman menguraikan gambaran umum terkait kemajuan yang telah dicapai program RER serta mendiskusikan pendekatan lanskap dalam konteks RER, dengan penekanan pada pentingnya kolaborasi jangka panjang untuk mempersatukan para pemangku kepentingan yang begitu beragam guna menyeimbangkan berbagai tujuan yang kadang saling bertentangan dalam suatu lanskap.

“Pendekatan ini mengakui seluruh kepentingan yang ada di suatu lanskap, termasuk masyarakat, dan di sinilah kami berupaya memastikan bahwa segala sesuatunya disadari dan diperhatikan,” ungkap Nyoman. Nyoman juga menyampaikan manfaat dari model produksi-proteksi, di mana hutan tanaman industri memberi dukungan dan perlindungan bagi restorasi lanskap.

Dalam skenario ini, RER dikelilingi oleh hutan tanaman serat yang berfungsi sebagai lapisan perlindungan pertama yang baik untuk mencegah terjadinya perambahan sekaligus untuk mendukung biaya operasional untuk program restorasi. “Pendekatan ini telah berhasil membuat kawasan RER bebas dari kebakaran dalam empat tahun terakhir,” tambahnya.

Beliau juga menyoroti bidang-bidang kemajuan utama yang telah dicapai dalam lima tahun terakhir. “Sejak hari pertama, kami bekerja sama dengan masyarakat setempat sebagai mitra program ini, dan ternyata hal ini sangat membantu dalam mendukung upaya perlindungan menyeluruh kami dan dalam menjaga agar tidak terjadi kebakaran. Ini bagian penting dalam pendekatan holistik kami dalam pengelolaan lanskap.”

“Regenerasi keanekaragaman hayati di kawasan tersebut juga menunjukkan kemajuan besar. Kini kami telah berhasil mengidentifikasi sebanyak 759 spesies satwa dan tumbuhan di kawasan ini. Lalu ada pula upaya restorasi yang kami jalankan, di mana kami telah melakukan upaya signifikan untuk menutup kanal-kanal lama di dalam hutan untuk memulihkan tinggi muka air tanah, dan dalam regenerasi area hutan yang sebelumnya rusak,” tambahnya.

Berlangganan Berita Restorasi Kami