Maret 20, 2019

Edukasi RER kepada Masyarakat Sekitar tentang Pentingnya Hutan

Hari Hutan Sedunia 2019 mengusung tema ‘Hutan dan Pendidikan’, yang berupaya meningkatkan kesadaran betapa hutan yang dikelola secara lestari berkontribusi pada tercapainya pembangunan berkelanjutan.

Di RER, kami telah menyusun rencana pengelolaan jangka panjang guna memastikan bahwa area hutan yang kami lindungi dan pulihkan – seluas 130.000 hektar di Semenanjung Kampar dan 20.000 hektar di Pulau Padang – tetap terjaga.

Kami sadar bahwa kerusakan hutan terutama disebabkan oleh kegiatan manusia seperti pembalakan liar, dan itulah sebabnya kami mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk bekerja bersama masyarakat setempat yang ada di sekitar RER, serta memastikan agar masyarakat yang bergantung kepada hutan untuk penghidupan menggunakan cara-cara yang lestari.

Pertanian tanpa bakar

Di masa lalu, masyarakat yang tinggal di seputar RER lazim melakukan praktik berladang dengan cara tebang-bakar – menggunakan api untuk membersihkan lahan untuk berladang.

To them, burning was the quickest and cheapest method, and the residual ashes afterward were a good fertiliser for growing their crops. 

Bagi mereka, membakar lahan merupakan cara tercepat dan termurah, dan sisa pembakaran dapat dijadikan pupuk untuk tanaman mereka. Akan tetapi, cara tradisional ini bisa membahayakan ketika api menjadi sulit dikendalikan, khususnya bila api terjadi di lahan gambut dan menyebar ke hutan.

Oleh karena itu, RER bekerja sama dengan warga desa di Semenanjung Kampar dan Pulau Padang untuk membuat program pertanian tanpa bakar, yang mencegah praktik tebang-bakar dan memberikan cara alternatif untuk menyiapkan lahan untuk ditanami tanaman pangan yang bernilai tinggi.

Tanaman pangan tersebut kebanyakan berupa sayur-mayur, termasuk cabai merah dan cabai hijau, jahe merah, terung, tomat, cabai rawit, dan buncis, tanaman lain yang dapat memberi pemasukan layak bagi para petani.

RER supports no-burn vegetable farming

Rer mengajarkan cara alternatif untuk menyiapkan lahan untuk ditanami tanaman pangan bernilai tinggi bagi warga desa.

Penangkapan ikan

Sebelum tahun 2016, para nelayan/penangkap ikan yang tinggal dekat sungai di kawasan RER Semenanjung Kampar menggunakan racun dan setrum listrik untuk membunuh dan menangkap ikan.

Mereka juga menggunakan api untuk menyingkirkan tanaman/vegetasi yang tumbuh di sepanjang sungai – semuanya merupakan cara-cara yang tanpa mereka sadari mendatangkan pencemaran pada ekosistem sungai dan membuat populasi ikan berkurang akibat penangkapan berlebih.

RER Fisherman in Serkap River

Saat ini, para penangkap ikan tidak lagi menggunakan cara-cara penangkapan ikan ilegal ini.

RER kemudian memberi edukasi tentang bahaya penggunaan cara-cara tersebut, dan bahwa meneruskan penggunaan cara-cara tersebut akan berdampak buruk pada keanekaragaman hayati, ekosistem, dan sumber mata pencaharian mereka.

Saat ini, para penangkap ikan tidak lagi menggunakan cara-cara penangkapan ikan ilegal, dan mulai menggunakan peralatan penangkapan ikan yang sesuai, seperti jala yang disediakan RER. RER juga mencatat bahwa produksi ikan bulanan mereka meningkat dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya.

Berlangganan Berita Restorasi Kami