Maret 03, 2021

Arti Hutan bagi Masyarakat Sekitar Area RER

Setiap tahun, tanggal 3 Maret diperingati sebagai Hari Satwa Liar Sedunia. Tahun ini, Perserikatan Bangsa-Bangsa memilih “Hutan dan Mata Pencaharian: Keberlanjutan untuk Manusia dan Planet” sebagai tema untuk menekankan hubungan antara hutan dan mata pencaharian jutaan manusia di planet ini.

Indonesia’s largest landscape-level forest restoration project ongoing in Kampar Peninsula (The Jakarta Post)

SUNGAI SERKAP, SEMENANJUNG KAMPAR

Hutan menyediakan jasa ekosistem yang berharga, seperti mengatur mengatur iklim, menjaga stok air bersih, menyimpan karbon, mencegah banjir, sebagai sumber keanekaragaman hayati yang sangat berharga hingga menopang mata pencaharian jutaan umat manusia. Sudah seharusnya kita melindungi, menghormati dan menghargai hutan dan penghuninya.

Sejak berdiri pada tahun 2013, RER bekerja untuk melindungi dan memulihkan salah satu ekosistem hutan rawa gambut yang rapuh dan penting di Semenanjung Kampar dan Pulau Padang, Riau. Upaya yang telah dilakukan RER tidak akan berhasil tanpa adanya dukungan dari masyarakat setempat, yang ikut berpartisipasi menjaga hutan di sekelilingnya.

MASYARAKAT SETEMPAT DI SEKITAR AREA RER DI SEMENANJUNG KAMPAR LOCAL COMMUNITY IN RER, KAMPAR PENINSULA

Untuk merayakan Hari Satwa Liar Sedunia 2021, kami ingin membagikan perspektif dari beberapa orang yang hidup harmonis dengan hutan.

Syaeroji, biasa disapa Oji, bekerja dengan RER sebagai Community Organizer BIDARA, dan sudah lama tinggal bersama masyarakat lokal di Semenanjung Kampar. Dia belajar bahwa hutan menyediakan segalanya untuk menopang kehidupan dan mata pencaharian mereka, dan percaya bahwa adalah tugas kita sebagai manusia untuk mengelola dan melindungi pemberian ini dengan baik.

Selama bekerja dengan BIDARA dan RER, dia telah membantu banyak komunitas untuk meningkatkan mata pencaharian mereka secara berkelanjutan dan lestari. Dia membantu mereka dalam pengembangan pertanian tanpa membakar, pengembangan industri rumahan, dan mendirikan institusi lokal seperti koperasi dan kelompok usaha untuk mendukung mata pencaharian mereka.

Setelah lama tinggal dengan masyarakat, ia memahami bahwa meskipun hutan dihuni oleh satwa liar, sebenarnya hutan itu jinak dan murah hati. Hutan menyediakan segalanya, mulai dari madu, ikan, buah-buahan, hingga tanaman-tanaman obat yang penting bagi masyarakat sekitar.

Satwa liar adalah penjaga hutan. Jika kita memperlakukan mereka dengan hormat, mereka tidak akan mengganggu kita. Oji dengan tenang menyatakan, “Terlepas dari perbedaan kami, kami masing-masing tahu wilayah kami”. Satwa-satwa itu hidup di hutan, sedangkan manusia hidup di luar wilayahnya – di sekitar hutan. Selama kita tidak mengganggu dan merusak rumah mereka, mereka tidak akan memandang kita sebagai ancaman.

Seperti halnya dengan manusia, yang harus kita lakukan hanyalah menghormati ruang pribadi satu sama lain, termasuk harimau. Bahkan harimau memiliki peran istimewa di komunitas lokal. Mereka sangat menghormati harimau, karena harimau dianggap sebagai nenek moyang dan pelindung nilai-nilai moral masyarakat.

Keyakinan ini telah diturunkan dari generasi ke generasi untuk membentuk rasa saling menghormati antara penduduk setempat dengan hutan. Selama ini, hidup berdampingan dan harmonis dengan hutan sangat mendamaikan hati bagi Syaeroji.

Hal yang kurang lebih sama pun dialami oleh Daud, warga Dusun Sangar yang tinggal di luar kawasan RER di Semenanjung Kampar.

Daud berasal dari keluarga yang mata pencahariannya berkaitan erat dengan keberadaan hutan yang sehat. Daud adalah seorang petani yang memiliki kebun jahe kecil di halaman belakang rumahnya. Ia juga terkadang memancing di Sungai Sangar, atau mengumpulkan buah palas (Licuala spinosa) dari hutan untuk dimakan.

Sungai Sangar yang penuh dengan ikan membuatnya lebih mudah untuk menyediakan makanan bagi keluarganya, tetapi ia hanya mengambil apa yang dibutuhkannya agar sungai tetap sehat.

Seperti Oji, dia percaya bahwa hutan menyediakan semua kebutuhan mereka. Mereka makan dan mencari penghidupan dari apa yang disediakan oleh hutan. Jadi, dia menganggap perlindungan hutan adalah hal yang serius, sama seperti bagaimana dia akan melindungi apa yang dia sayangi.

Ketika ditanya apakah hutan membuatnya takut, tanggapan Daud sangat mirip dengan Oji. Ia percaya bahwa satwa liar hanya akan bertindak berdasarkan ‘insting,’ seperti ketika mereka merasa terancam atau lapar. Selama kita tidak membahayakan hutan dan penghuninya, mereka tidak akan menyerang atau mengganggu kita.

Daud tinggal di Dusun Sangar sejak tahun 2001. Ia adalah bukti nyata bahwa masyarakat dan hutan bisa hidup berdampingan. Dan, kunci dari koeksistensi ini, sesuai dengan Oji, adalah dengan saling menghormati.

Secara keseluruhan, dia senang di hutan, “dengan semua ikan dan airnya.”

Melindungi Hutan sama dengan Melindungi Kehidupan dan Mata Pencaharian

Dari apa yang Oji dan Daud sampaikan, melindungi hutan juga berarti melindungi kehidupan dan mata pencaharian masyarakat disekitarnya. Hutan menyediakan segalanya, mulai dari udara bersih hingga makanan, dan bahkan sumber penghidupan.

Masyarakat setempat membentuk hubungan simbiosis antara manusia dengan hutan dan penghuninya. Manusia melindungi hutan dari potensi kerusakan, sedangkan hutan menyediakan mata pencaharian.

Selamat Hari Satwa Liar Sedunia!

Berlangganan Berita Restorasi Kami