Juli 31, 2026

Konservasi Berbasis Masyarakat

Lebih dari 55.000 orang tinggal di dalam dan sekitar kawasan RER. Sekitar 17.000 di antaranya bermukim di Semenanjung Kampar, sementara 34.000 lainnya tinggal di Pulau Padang. Banyak dari mereka menggantungkan mata pencaharian pada alam di sekitarnya, mulai dari menangkap ikan, memanen sarang burung walet, hingga mengumpulkan madu. Karena itu, keterlibatan masyarakat menjadi kunci keberhasilan upaya restorasi dalam jangka panjang.

Sejak pertama kali dibentuk, RER bersama para mitranya telah melibatkan masyarakat dalam setiap tahapan restorasi, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga pemantauan. Dengan mendengarkan pengetahuan lokal dan memahami kebutuhan masyarakat, kami dapat merancang program yang lebih efektif sekaligus membangun komitmen bersama untuk menjaga kelestarian ekosistem.

Untuk mewujudkan komitmen tersebut menjadi aksi nyata, edukasi memegang peranan penting. Kami terus meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya perlindungan lingkungan, konservasi keanekaragaman hayati, dan restorasi ekosistem. Di saat yang sama, kami juga mendukung pengembangan mata pencaharian alternatif yang lebih ramah lingkungan.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa upaya restorasi tidak hanya membantu melestarikan tradisi yang telah diwariskan turun-temurun, tetapi juga memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat melalui sumber penghidupan yang lebih beragam.

Kegiatan Sekolah Lapang RER di Desa Serapung yang diselenggarakan bersama Tropenbos Indonesia

Meningkatkan kesadaran perlu diikuti dengan dukungan nyata, baik secara teknis maupun finansial. Untuk memastikan setiap program sesuai dengan kebutuhan masyarakat serta didukung keahlian dan perizinan yang tepat, RER bekerja sama erat dengan pemerintah, organisasi non-pemerintah (NGO), dan kelompok masyarakat.

Dampak positif kolaborasi ini dapat dilihat di Desa Segamai. RER bekerja sama dengan Lembaga Pengelola Hutan Desa untuk memperkuat kapasitas masyarakat dalam mengelola dan memantau sumber daya hutan. Melalui pelatihan langsung dan dukungan pendanaan, hingga tahun 2024 desa ini telah membangun dua pos jaga serta mengembangkan persemaian yang menampung 475 bibit pohon asli untuk mendukung pemulihan kawasan yang terdegradasi.

Di Desa Serapung, kolaborasi kami membuka peluang baru bagi masyarakat setempat. Melalui program Sekolah Lapang, RER bersama Tropenbos Indonesia membekali masyarakat dengan praktik pertanian yang lebih berkelanjutan sekaligus mengurangi ketergantungan pada penebangan liar. Hingga tahun 2024, sebanyak 105 petani telah mendapatkan pendampingan untuk memproduksi pupuk organik serta meningkatkan produktivitas budidaya padi, cabai, dan kakao.

Selain melalui program di tingkat desa, RER juga bekerja sama dengan kelompok tani setempat untuk mendorong penerapan metode pembukaan lahan tanpa membakar. Untuk mendukung penerapan praktik ini, para petani memperoleh pelatihan sekaligus akses terhadap traktor yang memudahkan proses pengolahan lahan tanpa perlu menggunakan api.

Dukungan serupa juga diberikan kepada kelompok nelayan setempat dengan mendorong mereka meninggalkan praktik penangkapan ikan yang merusak, seperti penggunaan racun dan setrum. Melalui program ini, para nelayan memperoleh alat tangkap dan perahu yang lebih ramah lingkungan, sehingga mereka dapat menangkap ikan dengan cara yang lebih aman sekaligus tetap produktif.

LPHD Segamai melaksanakan kegiatan restorasi di kawasan Hutan Desa Segamai

Keberhasilan konservasi dalam jangka panjang tidak hanya bergantung pada masyarakat saat ini, tetapi juga pada upaya membekali generasi mendatang.

Melalui program Eco-Education, RER secara rutin mengundang para pelajar untuk mengunjungi Eco Research Camp. Di sana, mereka belajar langsung dari tim lapangan dan para ahli konservasi, sekaligus mengunjungi persemaian bibit, pos jaga hutan, dan area restorasi. Pengalaman ini memberi mereka pemahaman nyata tentang bagaimana upaya restorasi dilakukan di lapangan serta mengapa hutan gambut yang sehat sangat penting bagi kehidupan masyarakat di sekitarnya.

Melalui program belajar yang berkelanjutan ini, upaya konservasi tetap terhubung dengan kondisi nyata di lapangan. Pendekatan yang inklusif ini membantu membangun pemahaman dan dukungan masyarakat, sehingga semakin banyak pihak dapat berperan aktif dalam melindungi hutan rawa gambut serta menjaga keberlanjutannya untuk masa depan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

  1. Berapa jumlah masyarakat yang tinggal di dalam dan sekitar kawasan RER?
    Lebih dari 55.000 orang tinggal di dalam dan sekitar kawasan RER. Sekitar 17.000 di antaranya bermukim di Semenanjung Kampar, sementara sekitar 34.000 lainnya tinggal di Pulau Padang.
  1. Mengapa keterlibatan masyarakat penting dalam upaya restorasi RER?
    Masyarakat memegang peranan penting dalam menjaga lanskap karena kehidupan mereka sangat bergantung pada lingkungan di sekitarnya. Banyak di antaranya mengandalkan sumber daya alam sebagai mata pencaharian. Dengan melibatkan masyarakat dalam perencanaan, pelaksanaan, hingga pemantauan, upaya restorasi dapat lebih selaras dengan kebutuhan dan pengetahuan setempat, sekaligus membangun dukungan jangka panjang bagi keberhasilan konservasi.
  1. Bagaimana RER mendukung masyarakat setempat?
    RER mendukung masyarakat melalui berbagai program yang meningkatkan kesadaran, pelatihan langsung, dan bantuan pendanaan. RER juga bekerja sama dengan pemerintah, organisasi non-pemerintah (NGO), dan kelompok masyarakat untuk mendorong penerapan mata pencaharian yang lebih berkelanjutan serta praktik konservasi yang lebih baik. Bentuk dukungan tersebut antara lain pelatihan pertanian berkelanjutan, program pembukaan lahan tanpa membakar, dan program perikanan berkelanjutan bagi kelompok nelayan.
  1. Apa tujuan program Eco-Education RER?
    Program Eco-Education RER bertujuan membantu para pelajar memahami upaya konservasi melalui pengalaman belajar langsung di lapangan. Para peserta mengunjungi area restorasi, persemaian bibit, dan pos jaga hutan, serta belajar langsung dari tim lapangan dan para praktisi konservasi mengenai bagaimana upaya perlindungan dan pemulihan ekosistem dilakukan.

Laporan Kemajuan RER 2024