Mei 28, 2026

Restorasi Ekosistem Riau (RER), program restorasi ekosistem milik APRIL Group, telah bergabung dalam upaya global untuk melacak pemulihan spesies yang terancam.
Penilaian Green Status of Species (GSS) dikembangkan oleh International Union for Conservation of Nature dan menggunakan metodologi yang melengkapi Daftar Merah (Red List) yang lebih dikenal luas. Jika Daftar Merah IUCN mengklasifikasikan tingkat risiko kepunahan, maka kerangka GSS melihat sisi lainnya, yakni seberapa dekat suatu spesies menuju pemulihan penuh di habitat alaminya.
Februari lalu, Desita Kusumaningrum, seorang herpetologis dan anggota tim komunikasi RER, bergabung bersama 34 akademisi dan praktisi dari seluruh Indonesia dalam lokakarya yang diselenggarakan oleh IUCN Indonesia Species Specialist Group (IdSSG). Berlangsung di IPB University, Bogor, lokakarya selama lima hari ini berfokus pada penerapan praktis metrik GSS untuk mengevaluasi efektivitas jangka panjang dari tindakan konservasi.

Dalam kerangka GSS, suatu spesies dinyatakan “pulih sepenuhnya” apabila spesies tersebut hadir, memiliki populasi yang layak, dan menjalankan peran ekologisnya di wilayah alaminya. Metrik-metrik ini menghasilkan “Skor Hijau” dengan rentang nilai 0 hingga 100%, yang memberikan data transparan bagi kemajuan konservasi.
Pada skala global, penilaian-penilaian ini merupakan instrumen penting bagi Kerangka Keanekaragaman Hayati Global Kunming-Montreal (GBF), yang diadopsi oleh 196 negara pada akhir 2022. Secara khusus, adopsi metodologi ini oleh RER sejalan dengan Target 4, yang tidak hanya menargetkan penghentian kepunahan akibat aktivitas manusia, tetapi juga pemulihan dan konservasi spesies secara proaktif.

Mencakup 150.693 hektare hutan rawa gambut, RER berfungsi sebagai laboratorium penting bagi penerapan metodologi ini. Sejak dimulai pada 2013, APRIL telah mendanai misi proyek untuk melindungi dan memulihkan lanskap yang kaya akan keanekaragaman hayati ini. Hingga saat ini, tim RER telah berhasil menetralisir berbagai ancaman, memulihkan hidrologi alami dengan menutup saluran drainase buatan, serta melakukan reforestasi pada kawasan yang terdegradasi parah menggunakan spesies asli setempat.
“Bagi RER, keikutsertaan dalam lokakarya GSS mencerminkan komitmen kami yang berkelanjutan terhadap konservasi berbasis bukti,” ujar Desita. “Metodologi ini menawarkan wawasan dan perangkat yang berharga untuk membantu memantau pemulihan spesies, menilai dampak intervensi konservasi, dan memperkuat pelaporan keanekaragaman hayati.”

Peserta lokakarya telah mengidentifikasi 230 spesies satwa liar di seluruh Indonesia untuk tahap penilaian awal. Di antara spesies tersebut terdapat beberapa spesies prioritas tinggi yang mendiami lanskap RER, termasuk owa ungko (Hylobates agilis), harimau sumatera (Panthera tigris), kucing kuwuk (Prionailurus bengalensis), ular anang (Ophiophagus hannah), dan byuku (Orlitia borneensis).
Dengan mengintegrasikan standar global ini, RER terus berkontribusi pada tujuan internasional bersama untuk mencapai hasil pemulihan alam yang terukur, permanen, dan berdampak nyata.