September 30, 2026

People in the Field: Orang-Orang di Balik Kerja Konservasi

Konservasi sering kali digambarkan melalui hal-hal paling ikonik: hutan tropis yang terpencil, satwa liar yang terancam, dan aksi di lapangan. Namun, di balik setiap ekosistem yang berfungsi dengan baik, terdapat sistem pendukung yang jarang terlihat, mulai dari sistem operasional, koordinasi logistik, hingga orang-orang yang berdedikasi untuk memastikan upaya konservasi dapat berjalan dalam hitungan puluhan tahun, bukan hanya beberapa hari.

Di Restorasi Ekosistem Riau (RER), melindungi hutan gambut tropis yang kompleks membutuhkan lebih dari sekadar kehadiran di lapangan. Upaya ini juga membutuhkan koordinasi dan dukungan logistik yang kuat.

Dalam episode pertama seri People in the Field, kami menemui RER Operations Head, John Pereira. Melihat dirinya sebagai seorang fasilitator, John memastikan tim yang bertugas di garis depan memiliki peralatan, sumber daya, dan arahan strategis yang dibutuhkan untuk mewujudkan tujuan restorasi.

Pendekatan Jangka Panjang untuk Konservasi

Bagi John, salah satu kekuatan utama RER adalah kemampuannya untuk melihat jauh melampaui jangka waktu proyek pada umumnya. Sebagai inisiatif yang dikelola oleh swasta dengan izin konsesi selama 60 tahun dan seluruh pendanaannya didukung oleh APRIL Group, RER memiliki tingkat stabilitas yang jarang ditemukan. Dukungan finansial dan operasional yang terjamin ini memungkinkan tim untuk sepenuhnya berfokus pada apa yang dibutuhkan lanskap agar tetap terjaga dalam jangka panjang.

“Karena APRIL telah berkomitmen pada program ini dalam jangka panjang, kami dapat sepenuhnya berfokus pada apa yang benar-benar dibutuhkan di lapangan, tanpa harus khawatir mencari pendanaan setiap tiga atau empat tahun,” ujarnya.

Pendekatan jangka panjang ini memungkinkan RER mengembangkan strategi dari waktu ke waktu, menguji pendekatan baru, dan beradaptasi dengan perubahan kondisi tanpa dibatasi oleh siklus pendanaan jangka pendek. Dengan begitu, kebutuhan konservasi dan restorasi tetap menjadi fokus dari setiap upaya yang dilakukan.

Bagi John, pendekatan ini juga berarti memberikan ruang kepada tim untuk bekerja secara praktis, kreatif, dan responsif dalam melindungi serta memulihkan lanskap.

Meskipun perlindungan keanekaragaman hayati menjadi inti dari misi RER, upaya konservasi dan restorasi meliputi lebih dari sekadar perlindungan satwa liar. Upaya ini juga bergantung pada jaringan luas yang terdiri dari orang-orang dengan peran dan keahlian yang beragam.

“Dibutuhkan banyak semangat dan dedikasi untuk menjadi ahli biologi lapangan, jagawana hutan, atau teknisi restorasi,” ujar John. “Jika saya harus merangkum orang-orang di balik pekerjaan ini, saya akan bilang bahwa mereka adalah individu yang penuh semangat, berdedikasi, dan sangat tangguh.”

RER menyatukan berbagai tim dengan peran dan keahlian yang berbeda, mulai dari jagawana yang bertugas di pos-pos terpencil, tim pengelolaan air yang membangun sekat di kanal-kanal bekas pembalakan, tim perencanaan yang bekerja dari kantor pusat di Pangkalan Kerinci, hingga tim komunikasi yang membantu memperkenalkan cerita RER kepada khalayak yang lebih luas.

Mewujudkan Upaya Konservasi di Lapangan

Peran penting tim lapangan terlihat jelas: merekalah yang mewujudkan upaya konservasi sehingga hasilnya dapat terlihat, diukur, dan memberikan dampak.

“Konservasi tidak bisa dilakukan hanya dari kantor. Kita membutuhkan orang-orang yang bekerja langsung di lapangan,” ujar John. “Mereka membutuhkan dukungan berupa pendanaan yang stabil, sumber daya yang diperlukan, dan strategi yang dipahami bersama.”

Merekalah yang mengukur pertumbuhan pohon, memantau satwa liar melalui kamera jebak, memulihkan sistem tata air, dan merespons kondisi di lapangan. Tanpa mereka, menurut John, upaya konservasi berisiko menjadi “paper park”, yaitu rencana yang hanya ada dalam dokumen tetapi tidak pernah benar-benar diwujudkan di lanskap.

Membangun Kepercayaan dengan Masyarakat Sekitar

Peran tim lapangan juga melampaui kawasan hutan, menjangkau masyarakat yang hidup dan beraktivitas di sekitar lanskap tersebut.

Di sepanjang Sungai Serkap, praktik penangkapan ikan yang merusak pernah marak dilakukan. Praktik tersebut mencakup penggunaan racun dan jaring insang, serta pembakaran area tertentu untuk menarik ikan keluar. Kegiatan penangkapan ikan ini terkadang juga disertai perburuan burung.

Mengubah praktik-praktik tersebut tidak bisa dalam waktu singkat. Dibutuhkan keterlibatan selama bertahun-tahun, membangun hubungan baik, serta mencapai kesepakatan dengan masyarakat nelayan setempat.

Saat ini, Sungai Serkap dikenal memiliki hasil tangkapan ikan yang tinggi dibandingkan dengan sungai-sungai lain di wilayah tersebut. Menurut John, perubahan ini menunjukkan bahwa kemajuan konservasi dibangun melalui kepercayaan, yang sama pentingnya dengan intervensi teknis.

Komitmen untuk Terus Melangkah

Restorasi lahan gambut membutuhkan pemantauan selama bertahun-tahun sebelum hasilnya mulai terlihat. Proses yang panjang dan penuh tantangan inilah yang membuat John menilai bahwa orang-orang di balik pekerjaan ini layak mendapatkan apresiasi lebih besar. Konservasi membutuhkan komitmen jangka panjang, pengalaman, kesabaran, serta kemauan untuk terus bekerja dalam berbagai kondisi yang sulit. “Pekerjaan ini kotor, panas, basah, dan sangat menantang bahkan pada hari-hari biasa,” tambah John.

Hutan dan satwa liar mungkin menjadi simbol konservasi yang paling menarik perhatian. Namun, di RER, orang-orang yang bekerja di lapangan, bersama tim yang mendukung mereka, adalah penggerak yang menjaga upaya ini terus berjalan melalui setiap patroli, setiap kanal yang dipulihkan, dan hubungan yang terus dibangun dengan masyarakat sekitar.

Laporan Kemajuan RER 2024