Januari 05, 2026

Di Balik Kerja RER: Wawan Gunawan dalam Perencanaan dan Kemitraan

Di lanskap Restorasi Ekosistem Riau (RER), upaya perlindungan dan pemulihan hutan bergantung pada sinergi banyak tangan dan keahlian. Ada peran yang berfokus pada pemantauan satwa di lapangan, ada pula yang bekerja bersama masyarakat setempat, mengembangkan mata pencaharian berkelanjutan, atau menjaga hidrologi lahan gambut.

Dengan beragam bidang yang perlu dikoordinasikan, perencanaan strategis menjadi elemen kunci untuk memastikan seluruh upaya ini tetap selaras, dapat dikembangkan, dan berkelanjutan dalam jangka panjang. Salah satu sosok yang berperan penting dalam proses ini adalah Wawan Gunawan, Planning & Government Relations Manager RER, yang telah terlibat hampir satu dekade dalam inisiatif ini.

Dalam artikel ini, kami mengajak Anda mengenal lebih dekat perjalanannya: mulai dari masa kecilnya yang tumbuh di sekitar salah satu taman nasional paling berharga di Indonesia, hingga perannya saat ini dalam membangun kemitraan yang mendukung restorasi ekosistem jangka panjang di Riau.

Wawan Gunawan, Manajer Perencanaan dan Kemitraan

Karier Konservasi yang Dibangun dari Dasar

Kedekatan Wawan dengan alam tumbuh sejak dini. Ia dibesarkan di dekat Taman Nasional Ujung Kulon, Banten, di mana hutan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

“Saya selalu memiliki ikatan emosional dengan hutan,” ujar Wawan, mengenang kampung halamannya yang berada di dekat kawasan Ujung Kulon. “Jadi ketika mengetahui RER membuka lowongan, saya langsung melamar. Saya ingin kembali bekerja dengan hutan alam.”

Sebelum bergabung dengan RER, Wawan menempuh pendidikan kehutanan di Universitas IPB, salah satu institusi terkemuka di Indonesia dalam bidang ilmu lingkungan.

Perjalanan profesionalnya dimulai pada tahun 2002, saat ia mengikuti Forester Training Program di PT RAPP. Dalam satu dekade berikutnya, ia mengemban berbagai peran kepemimpinan di bidang perencanaan dan operasional, antara lain:

Perpaduan antara keahlian teknis dan hubungan yang terbangun di lapangan ini membekali Wawan dengan spektrum kemampuan yang luas, sekaligus menjadi fondasi kuat bagi perannya di bidang restorasi ekosistem.

Bergabung dengan RER: Pendekatan Baru dalam Pengelolaan Hutan

Wawan bergabung dengan RER pada tahun 2016, tertarik oleh model unik inisiatif ini dalam memulihkan ekosistem lahan gambut dan hutan alam.

Ia melihat restorasi sebagai sebuah evolusi yang penting dalam pengelolaan hutan. “Restorasi adalah sebuah paradigma baru,” ujarnya, seraya menyoroti sifat holistik dari model produksi–proteksi yang diterapkan RER. “Sebelumnya, izin kehutanan hanya berfokus pada produksi kayu. Pendekatan RER berbeda. Fokusnya adalah memulihkan ekosistem serta menyelaraskan kebutuhan ekonomi, ekologi, dan sosial.”

Keseimbangan inilah yang menjadi inti dari perannya saat ini. Sebagai Planning & Government Relations Manager, Wawan memastikan bahwa seluruh kegiatan restorasi berjalan seiring dengan keberlanjutan jangka panjang.

Verifikasi laporan monitoring Proyek Karbon RER bersama tim auditor

Peran yang Berpusat pada Kolaborasi

Meski berkantor di kantor pusat RER di Pangkalan Kerinci, pekerjaan Wawan jauh melampaui meja kerjanya. Sekitar separuh waktunya dihabiskan untuk berkoordinasi dengan:

“Seberapa pun kuatnya kerja kita di lapangan,” kata Wawan, “jika tidak dibagikan dan dibahas bersama para pemangku kepentingan, dampaknya akan terbatas. Konservasi tidak bisa berjalan sendiri.” Peran para pemangku kepentingan, termasuk masyarakat, pemerintah, LSM, hingga sektor swasta, sangat krusial dalam upaya konservasi. Agar berhasil, semuanya harus bergerak bersama.

Wawan kemudian berbagi contoh terbaru yang menunjukkan pentingnya sinergi tersebut, khususnya terkait para nelayan di sekitar kawasan RER. “Sebelum RER dibentuk,” jelasnya, “pemerintah dan LSM telah melakukan sosialisasi mengenai pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem.”

Melalui kerja bersama masyarakat, terungkap bahwa praktik penangkapan ikan dengan cara menyetrum dan meracuni masih cukup umum dilakukan. Akibatnya, hasil tangkapan menjadi tidak stabil dan beberapa jenis ikan bahkan menghilang. Kini, kondisinya stabil, dan populasi ikan kembali meningkat. Seperti disampaikan Wawan, “ini adalah contoh kecil namun kuat tentang bagaimana pengelolaan sumber daya hutan yang berkelanjutan sangat terkait dengan kesejahteraan masyarakat.”

Dalam merencanakan kegiatan restorasi, Wawan berfokus pada penyelarasan dua pilar utama:

Penyelarasan ini menjadi dasar dalam pengambilan keputusan, seperti penentuan lokasi penutupan kanal (canal blocking), pengaturan pola patroli, hingga perancangan kesepakatan berbasis masyarakat.

Verifikasi laporan monitoring Proyek Karbon RER bersama tim auditor

Tantangan dalam Peran Wawan

Seperti banyak pihak yang bekerja di bidang konservasi, Wawan menghadapi beragam tantangan. Bagi Wawan, tantangan tersebut dapat bersifat internal, seperti mengoordinasikan kegiatan di antara tim yang beragam, maupun eksternal, yakni berkaitan dengan upaya sosialisasi dan kolaborasi dengan masyarakat di sekitar kawasan.

Menurut Wawan, solusi untuk kedua jenis tantangan ini pada dasarnya serupa. “Selama solusi yang kami bangun memiliki fondasi yang kuat, didasarkan pada data yang objektif, dan disampaikan dengan cara yang tepat, saya percaya setiap tantangan dapat kami lalui.”

Pendampingan LPHD Segamai dalam kegiatan pelaporan pertanggungjawaban bersama pemerintah desa dan masyarakat

Mengapa Kemitraan Sangat Penting Bagi Wawan

Bagi Wawan, kemitraan bukan sekadar dukungan tambahan, melainkan elemen yang esensial untuk mencapai keberhasilan. Seperti yang ia jelaskan:

“Konservasi tidak bisa dilakukan sendiri. Diperlukan partisipasi dari pemerintah, organisasi, dan setiap individu. Kita melindungi hutan bukan hanya untuk hari ini, tetapi juga untuk generasi mendatang.”

Pendekatan ini sejalan dengan misi jangka panjang RER, di mana keberhasilan restorasi bergantung pada keterlibatan masyarakat, keselarasan kebijakan, pembagian manfaat yang adil, serta tanggung jawab bersama.

Wawan Gunawan: Menatap Masa Depan dengan Tanggung Jawab Bersama

Wawan meyakini bahwa setiap orang memiliki peran dalam menjaga keberlanjutan hutan. “Setiap orang berhak atas udara bersih dan lingkungan yang sehat, sekaligus memiliki tanggung jawab untuk melindunginya,” ujarnya.

Ia mendorong tindakan-tindakan sederhana dalam keseharian, termasuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, menghemat energi dan air, membuat kompos dari sampah rumah tangga, menanam pohon, hingga menghindari praktik-praktik merusak seperti pembakaran lahan atau perburuan ilegal.

Langkah-langkah kecil ini, ketika dilakukan bersama oleh masyarakat, dapat membantu menjaga keseimbangan ekosistem.

Harapan Wawan pun jelas, dengan pesan yang sederhana: “Untuk hutan yang masih tersisa, mari kita lindungi. Untuk hutan yang sudah rusak, mari kita pulihkan.”

Ia mengingatkan bahwa dampak dari kehilangan hutan — seperti banjir, kekeringan, dan kerugian ekonomi — jauh lebih besar dibandingkan keuntungan jangka pendek dari eksploitasi.

Kemajuan yang sesungguhnya hanya dapat dicapai melalui komitmen bersama antara pemerintah, sektor swasta, LSM, dan masyarakat setempat.

“Hutan adalah sistem penopang kehidupan. Masa depan yang berkelanjutan berarti masyarakat yang sejahtera dan hutan yang sehat, berjalan beriringan.”

Laporan Kemajuan RER 2024