RESTORASI EKOSISTEM RIAU (RER) adalah kolaborasi antara sektor publik dan swasta untuk kegiatan restorasi dan konservasi di Semenanjung Kampar pada hutan gambut yang bernilai ekologis tinggi.

Pada tahun 2013, APRIL Group meresmikan RER yang merupakan program jangka panjang yang menerapkan pendekatan bentang alam dengan empat komponen utama: melindungi, mengkaji, merestorasi dan mengelola sekitar 150,000 hektar hutan gambut yang telah terdegradasi. Dengan pendekatan bentang alam, RER merestorasi hutan gambut dan ekosistemnya, berkolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan termasuk masyarakat.

Ditunjang oleh sumber daya dan keahlian dari Fauna & Flora International (FFI), Bidara dan APRIL Group, RER juga bekerjasama dengan masyarakat setempat untuk kegiatan konservasi di Semenanjung Kampar ini yang dikelola berdasarkan izin eco-restorasi oleh Kementrian Kehutanan yang berjangka waktu 60 tahun.

Kegiatan eco-restorasi ini termasuk perlindungan yang lebih luas terhadap area hutan yang telah terdegradasi, bekerjasama dengan para partner dalam implementasi.


150,000

hektar

US$100

jutaan

22,000

orang

492

jenis

Semenanjung Kampar

Lahan gambut di Semenanjung Kampar, Sumatra merupakan salah satu lahan gambut terluas di Asia Tenggara yang terancam. Daerah ini kaya akan keanekaragaman hayati dan spesies yang terancam seperti macan Sumatra, beruang madu dan flat-headed cat.

Semenanjung Kampar

Lahan gambut di Semenanjung Kampar, Sumatra merupakan salah satu lahan gambut terluas di Asia Tenggara yang terancam. Daerah ini kaya akan keanekaragaman hayati dan spesies yang terancam seperti macan Sumatra, beruang madu dan flat-headed cat.

Kegiatan penebangan selama bertahun-tahun menyebabkan hutan di daerah Kampar terdegradasi. Penurunan permukaan air untuk kegiatan pertanian dan pembukaan lahan dengan metode pembakaran juga memperburuk keadaan. Namun, daerah semenanjung ini meyimpan stok karbon tinggi.

Dengan demikian, menjadi penting untuk mengelola secara efektif dan merestorasi Kampar Peninsula dengan pendekatan bentang alam dalam rangka mitigasi perubahan iklim dan penerapan pengelolaan hutan berkelanjutan.

Tim Manajemen

RER dikelola oleh para pemimpin yang berdedikasi terhadap tujuan jangka panjang Restorasi Ekosistem Riau.

Dr. Petrus Gunarso

Direktur Konservasi - APRIL

Berpengalaman selama lebih dari 30 tahun dalam bidang kehutanan dan perlindungan lingkungan hidup, Dr. Gunarso mengawasi pengelolaan konservasi APRIL yang menerapkan konsep bentang alam.

Sebelumnya, Dr. Gunarso adalah Program Director dari organisasi nirlaba Tropenbos International Indonesia Program dimana beliau memimpin berbagai inisiatif untuk memperbaiki pengelolaan hutan tropis, pembangunan kapasitas, konservasi serta pembangunan berkelanjutan.

Dalam perannya sebagai Policy Analyst dan Senior Project Coordinator di Center for International Forestry Research (CIFOR), beliau terlibat dalam inisiatif desentralisasi pengelolaan hutan, konservasi, pengelolaan lingkungan hidup dan pemberdayaan masyarakat.

Dr. Gunarso mendapatkan gelar Doktor dari Department of Natural and Rural System Management, University of Queensland, Australia pada tahun 2004. Pada tahun 1998, beliau mendapatkan gelar pasca sarjana untuk bidang manajemen perikanan dan margasatwa dari Michigan State University, USA dan lulus dari fakultas kehutanan, Universitas Gadjah Mada, Indonesia pada tahun 1982.

Bradford Sanders

Wakil Kepala Bidang Konservasi

Sebelum datang ke Indonesia di tahun 2000, Brad bertugas di U.S Forest Service selama 15 tahun sebagai pemadam kebakaran hutan yang diterjunkan ke berbagai lokasi kebakaran di Alaska sampai New Mexico. Beliau juga berperan dalam manajemen penanganan kebakaran di Idaho.

Di tahun 2000 - 2002, bersama dengan German Technical Development (GTZ), Brad merancang sistem manajemen penanganan kebakaran untuk propinsi Kalimatan Timur.

Saat bertugas di APRIL pada tahun 2003 sebagai Koordinator Penanganan Kebakaran, beliau membentuk sistem Fire Danger Rating dan Pemadaman Api Cepat yang bertujuan untuk melindungi hutan tanaman APRIL. Brad juga membentuk sistem penanganan kebakaran hutan dari udara dengan menggunakan pesawat dan helikopter perusahaan yang juga digunakan untuk proses pemupukan tanaman. Sebelum masa tugasnya di APRIL selesai di tahun 2012, beliau juga aktif terlibat dalam berbagai kegiatan sustainability (keberlanjutan) di APRIL.

Dalam perannya sebagai Technical Advisor untuk Royal Society for the Protection of Bird's, sebuah organisasi yang berbasis di Inggris, Brad merancang sistem manajemen hutan dan rencana bisnis untuk Harapan Rainforest (PT. REKI) di propinsi Jambi dan Sumatra Selatan. Harapan Rainforest adalah projek restorasi ekosistem pertama di Indonesia.

Pada tahun 2016, beliau bergabung kembali dengan APRIL sebagai Wakil Kepala Bidang Konservasi di Restorasi Ekosistem Riau (RER).

Brad memperoleh gelar S1 dan S2 di bidang Manajemen Hutan dari Clemson University, South Carolina.

Muhammad Iqbal

B.Sc, M.Sc, Manager - Ekologi dan Rehabilitasi Hutan

Setelah lulus dengan gelar sarjana biologi dari Universitas Indonesia, Iqbal bertugas sebagai Manager Riset di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan dengan Wildlife Conservation Society selama 5 tahun dimana dia terlibat dalam berbagai riset ekologis bersama dengan para ilmuwan nasional dan international.

Iqbal juga mengikuti program magang di Rijk Herbarium di Leiden, Belanda dimana dia menamatkan pendidikan pasca sarjana. Sekembalinya di Indonesia, Iqbal bergabung dengan PT. RAPP sebagai wildlife biologist. Dalam posisinya saat ini sebagai koordinator konservasi, Iqbal aktif dalam berbagai inisiatif dan aspek konservasi.


Dewan Penasehat

RER dipandu oleh Dewan Penasehat yang terdiri dari para pakar pihak ketiga dari Indonesia dan internasional.

Mark Rose

Chief Executive, Fauna & Flora International

Mark Rose adalah Chief Executive Fauna & Flora International (FFI) selama lebih dari 20 tahun. Dalam posisi ini, beliau melakukan transformasi FFI dari organisasi yang menangani pelbagai proyek menjadi organisasi konservasi nirlaba global yang menangani lebih dari 100 program di sekitar 40 negara.

Beliau memimpin beragam program kemitraan sektor swasta yang mendorong perusahaan skala besar untuk mengutamakan keanekaragaman hayati dalam proses perencanaan strategis. Beliau juga membangun berbagai inisiatif bisnis berkelanjutan yang mendukung program konservasi spesies dan konservasi dengan konsep bentang alam.

Mark berperan penting dalam proses pembentukan Cambridge Conservation Initiative (CCI), sebuah kolaborasi unik antara Cambridge University and beragam organisasi konservasi yang bekerja dibidang konservasi keanekaragaman hayati.

Mark adalah seorang ahli ilmu hewan yang berpengalaman luas, utamanya di berbagai daerah terpencil di Afrika dan Asia Pasifik.

Dr. Tony Whitten

Regional Director, Asia-Pacific, Fauna & Flora International (FFI)

Dr. Tony Whitten bergabung dengan FFI pada tahun 2010 sebagai Regional Director for Asia Pacific, dengan tugas utama mengawasi beragam proyek konservasi seperti macan Sumatra, laut dan daerah pesisir di Kamboja, proyek-proyek REDD+ di Kalimantan.

Sebelum bergabung dengan FFI, beliau bertugas sebagai Senior Bidoversity Specialist di World Bank pada proyek-proyek yang berkaitan dengan kebijakan habitat, inisiatif regional serta beragam proyek konservasi inisiatif pribadi beliau di Asia Utara dan Indochina.

M. Nashihin Hasan

Pendiri dan Direktur, Bina Sumberdaya Masyarakat (BIDARA)

Nasihin adalah seorang seorang pakar bidang pembangunan dan juga pendiri Bina Sumberdaya Masyarakat (BIDARA), sebuah organisasi konsultasi pembangunan sosial. Berpengalaman lebih dari 30 tahun di bidang pencegahan, resolusi konflik dan perdamaian beliau berperan sebagai konsultan senior untuk pemerintah Republik Indonesia dan beragam organisasi nirlaba nasional dan internasional seperti CARE Indonesia, World Bank, UNDP dan OXFAM.

Nasihin menjadi advisor APRIL sejak 1998 dalam merancang dan mengelola program pengembangan masyarakat juga membangun kapasitas internal perusahaan untuk pembinaan hubungan pemangku kepentingan dan social capital.

Jeffrey Arthur Sayer

Profesor Development Practice, James Cook University, Cairns

Jeffrey Arthur Sayer adalah seorang ahli ekologi yang berpengalaman dalam berbagai program manajemen dan riset yang berkaitan dengan manajemen surmber daya alam.

Saat ini beliau adalah Profesor Development Practice di James Cook University, Cairns.

Beliau pernah bertugas di FAO dan IUCN dan juga sebagai Senior Environmental Adviser di World Bank. Pada tahun 1993 - 2001 beliau bertugas sebagai CEO dari Center for International Forestry Research. Beliau juga bertugas sebagai Senior Associate dan Science Advisor di WWF International, serta Chair of International Nature Conservation di University of Utrecht, Belanda.

Jeffrey Sayer adalah Founding Director General dari Center for International Forestry Research di Indonesia dan Senior Fellow dari International Union for the Conservation of Nature.

Profesor Sayer adalah anggota Science and Partnership Council dari Consultative Group for the International Agricultural Research dan menerbitkan berbagai tulisan dan buku tentang sumber daya alam.

I Made Subadia Gelgel

Ir. Made Subadia Gelgel M.Sc.; Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Sumberdaya Alam (2002-2003)

Bapak Gelgel adalah seorang praktisi pengelolaan hutan secara berkelanjutan dan juga berpengalaman dalan hal regulasi kehutanan dan hubungan antar lembaga dalam karir beliau dengan Departemen Kehutanan, Indonesia.

Beliau menerima gelar S1 dari fakultas kehutanan Universitas Gadjah Mada dan menerima gelar S2 dari universitas yang sama untuk bidang ketahanan nasional.

Bey Soo Khiang

Chairman of APRIL Group

Bey Soo Khiang adalah Vice Chairman dari RGE Group sejak Maret 2011. Dengan pengalaman beliau sebagai mantan eksekutif dibidang penerbangan dan pertahanan negara, beliau mengawasi keseluruhan aspek business yang tergabung dalam RGE Group. Beliau adalah Vice Chairman APRIL dan memandu kegiatan APRIL pada bidang pengelolaan hutan tanaman.

Bey Soo Khiang bergelar Masters in Arts (Engineering) dari University of Cambridge dan Master's Degree in Public Administration dari Kennedy School of Government, Harvard University.

Anthony Sebastian

Spesialis Perencanaan Konservasi

Anthony Sebastian adalah ahli ekologi margasatwa dan spesialis perencanaan konservasi. Beliau berpengalaman luas dalam bidang konservasi, restorasi, daerah rawa, kehutanan dan rancangan kebijakan. Anthony memberikan pendampingan dalam bidang pembangunan serta perencanaan konservasi di Asia dan Timur Tengah.

Beliau mengkontribusikan pengalamannya selama lebih dari 20 tahun bekerjasama dengan pihak pemerintahan dan lembaga sosial masyarakat di 17 negara di Asia dalam kapasitasnya di RER. Anthony juga aktif di Forest Stewardship Council (FSC) sebagai anggota dewan direktur.